Pengantar Sejarah Dakwah

STUDY TENTANG RASULULLAH SEBAGAI SHOHIBU DAKWAH BESERTA KONDISI MASYARAKATNYA

  1. 1.    Dakwah Rasulullah di Mekkah

Pada awalnya Rasul berdakwah secara rahasia sembunyi-sembunyi selama tiga tahun. Masuk islam pada masa ini adalah orang-orang terdekat dan mampu memegang rahasia. Orang yang pertama masuk islam adalah Khadijah, kemudia di susun oleh Zaid bin Haritsah, Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar.

Mereka masuk islam secara rahasia dan rasul membimbing mereka pun dengan rahasi pula. Ayat-ayat yang turun saat itu adalah ayat-ayat pendek, penyampaian yang tenang. Isinya tentang pembersihan jiwa, celaan terhadap surge dan neraka yang seolah-olah dihadapan mata.

Meskipun berusaha tidak menampakkan perbedaan dengan masyarakat umum, tetapi akhirnya berita tentang tersebarnya ajaran baru tercium juga. Namun orang-orang quraisy tidak menaruh perhatian terhadapnya.

Dakwah terang-terangan di mekkah di mulai sejak turunnya ayat 214suratasy-Syu’ara. “Dan berilah peringatan kepada kaum kerabatmu yang terdekat”. Kemudian sedikit demi sedikit kaum quraisy mulai mempercayai rasul bahwa rasul tidak berdusta.

Adapun sarana dakwah rasul dapat di bagi menjadi sarana fisik dan non fisik :

  1. Fisik

-  Masjidil haram sebagai sarana untuk memperlihatkan kekuatan kaum muslimin

-  Bukit Shafa sebagai tempat pertemuan di lapangan terbuka

-  Rumah sebagai tempat pengkaderan para sahabat

-  Tabligh terbuka, kefasihan dan retorika Rasulullah yang baik.

  1. Non Fisik

-  Hubungan Rasulullah yang sangat dekat dengan Allah

-  Kejujuran dan kepribadian Rasulullah

-  Menerapkan strategi dan system yang tertata baik

Problematika ketika menyebarkan dakwah di Mekkah seperti mencemooh, menghina, melecehkan, mendustakan, seperti dituduh orang gila. Menebar duri di tempat Rasulullah lewat. Rahasia suskes dakwah nabi di Mekkah adalah ketegaran beliau memegang prinsip yang telah di gariskan oleh Allah. Apabila rasul menyimpang sedikit saja dari prinsip-prinsip tersebut maka pasti dakwah islam akan gagal dan Muhammad akan mengalami kehinaan hidup di dunia dan akhirat. Adapun ciri umum dakwah Rasullah di Mekkah, yaitu :

  1. Perhatian dakwah terfokus pada penyampaian dakwah dengan sirriyah (sembunyi) maupun jahriyyah (terang-terangan)
  2. Memerhatikan aspek tarbiyah
  3. Berusaha untuk tidak terjadi konflik dengan musuh yang adapat mengakibatkan kontak fisik
  4. Selalu aktif melakukan maneuver dalam dakwah
  5. Melakukan kegiatan dan menentukan strategi yang berkesinambungan
    1. 2.    Dakwah Rasulullah di Madinah

Dakwah di Madinah di anggap kelahiran baru agama islam setelah ruang dakwah. Di Mekkah sempit bagi kaum muslimin. Lalu nabi hijrah ke madinah dan memperoleh kemenangan besar bagi silam dan kaum muslimin. Hijrah merupakan tonggak kehidupan. Di negeri ini mulai menerapkan system kehidupan baru sesuai dengan perintah Allah SWT. Ketika dakwah sudah melembaga dalam bentuk Negara dengan Rasulullah sebagai kepala negaranya, menata pola hubungan anatara sesama muslin dengan nonmuslim.

Pada saat nabi di utus menyebarkan agama islam, kondisi masyarakat pada saat itu sangatlah hancur, dilihat dari:

  1. Kondisi keagamaan

Pada saat itu tenggelam dalam kepercayaan jahiliah, orang arab musyrikin menyembah berhala, kerusakan aqidah.

  1. Kondisi politik dan hukum

Kondisi politik dan hukum sangat rusak, rakyatnya sellau menjadi mangsa para pemimpin. Mereka tak ubah seperti mesin yang siap meproduksi kekayaan untuk pemimpinnya, sedangkan mereka sendiri tak mendapat apa-apa.

  1. Kondisi sosiokultura

Hubungan antara laki-laki dan perempuan sudah rusak, perlakuan terhadap budak semena-mena, budaya masyarakat miras mengakar.

  1. Kondisi ekonomi

Perdagangan adalah pendapatan primadona masyarkat mekkah dan quraisy, sebagaimana yang digambarkan dalam surat quraisy, perdagangan ini tidak cukup aman karena banyaknya penyamun yang selalu mengintai ekspedisi dagang perdangan ini melahirkan orang-orang kaya yang berfoya-foya di satu sisi orang-orang miskin yang terbuang.

DAKWAH DAN KONDISI MASYARAKAT PADA MASA

ABU BAKAR ASH SHIDIQ

  1. 1.    Biografi Abu Bakar

Nama lengkapnya Abdullah bin Utsman bin Amir bin Amr bin Ka’ab bin Tayyim bin Murrah. Lahir di Mekkah dua tahun beberapa bulan setelah tahun gajah. Abu bakar meninggal dunia pada bulan Jumadil akhir tahun ke tigabelas H, dalam usia 63 tahun. Beliau di kenal sebagai orang berakhlak mulia, pandai bergaul Rasulullah menyipatinya dengan “atiq min an nar” (orang yang terbebas dari neraka), sedangkan gelar ash-shiddiq beliau peroleh setelah peristiwa isra dan Mi’raj Rasul, ketika beliau membenarkan tanpa ragu-ragu di saat orang lain mendustakan.

Ketika Muhammad  menikah dengan Khadijah binti Khuwailid, Muhammad saw. pindah dan hidup dengannya. Pada saat itu Muhammad menjadi tetangga Abu Bakar. Sama seperti rumah Khadijah, rumahnya juga bertingkat dua dan mewah. Sejak saat itu mereka berkenalan satu sama lainnya. Mereka berdua berusia sama, pedagang dan ahli berdagang.[1].

  1. 2.    Abu Bakar menjadi khalifah

Abu bakar memerintah selama dua setengah tahun tepatnya dua tahun tiga bulan dua puluh hari. Walau masa pemerintahannya sangat singkat Abu Bakar sarat dengan amal dan jihad. Di saat Abu Bakar memerintah tiba-tiba Madinah di kejutkan oleh gerakan yang menggerogoti system islam yang meluas hamper ke semenanjungArabia. Bentuk gerakan tersebut adalah: murtad dari agama, gerakan nabi palsu, pembangkang zakat.

  1. 3.    Perluasan wilayah pada masa Abu Bakar
  2. BahraindanQatar

Kawasan ini yang memanjang dari pantai teluk Arabia di antara Bashrah danOmanislam masuk di kawasan ini pada zaman nabi dengan cara damai,hasil dakwah nabi SAW. Di negeri ini pun pernah ada fitnah riddah (gerakan murtad masal) naum dapat teratasi.

  1. Kuwait

Pertempuran Dzat As Salasil terjadi diKuwaitdan berakhir dengan kemenangan di pihak muslimin. Akhirnya islam memasuki NegaraKuwaitdan darinya islam menyebar ke Irak danIran

  1. Irak

Pertempuran di Irak pun terus-terusan terjadi sampai Irak betul-betul sempurna di bawah kekuasaan Islam.

  1. 4.    Gerakan Pengumpulan Al-Quran

Motif utama di kumpulkannya Al-Quran adalah rasa kekhawatiran seorang umar terhadap masa depan Islam jika kadar intinya yang menjaga islam dengan Al-Quran gugur satu persatu dimedanjuang. Pemerintahan Abu Bakar untuk mengerjakan proyek yang sangat krusial bagi keutuhan ajaran Islam, yaitu pengumpulan Al-Quran, sehingga dengan kematian para Qurra tidak berakibat kepada hilangnya pegangan umat Islam.

DAKWAH DAN KONDISI MASYARAKAT PADA MASA

UMAR BIN KHATAB

  1. 1.    Biografi Umar Bin Khatab

Umar bin Khattab bin Nufail bin Abdil Uzza bin Rabah lahir di bani Adi bin Ka’ab rumpun quraisy. Umar memerintah selama sepuh tahun. Masa jabatannya berakhir dengan kematian di bunuh oleh seorang budak dariPersiabernama Abu Lu’lu’ah. Ketika masa jahiliah beliau terkenal dengan kefasihan lidah dan keberaniannya, setelah masuk islam beliau sangat berwibawa, zuhud, berilmu, adil, penyayang. Beliau meriwayatkan hadis sebanyak 537 hadis.

Pada masa pemerintahannya umar adalah seorang negarawan yang baik, tertib dan tegas baik dalam bidang administrasi artaupun keuangan. Beliau juga memutuskan perluasan wilayah, menegakkan keadilan. Penanggalan tahun hijriah di mulai sejak pemerintahannya. Beliau meninggal dunia pada hari rabu, tanggal 26 Zulhijah tahun 23 pada usia 63 tahun.

  1. 2.    Futuhat Pada Masa Umar Bin Khatab
  2. Penyempurnaan Fath Iraq

Ketika umar menjadi khlifah, kaum muslimin sedang berangkat kePersia. Beliau menunjuk Abu Ubaidah sebagai pemimpin, namun Abu Ubaidah meninggal saat peperangan Jisr di ganti lagi oleh Mutsana. Setelah Mutsana meninggal Umar menunjuk Sa’ad bin Abi waqqash sebagai panglima besar. Disinilah muslimin mendapat kemenangan besar gemilang.Iraqdi jadikan pangkalan kekuatan kaum muslimin untuk melakukan perluasan ke negara-negara Persian lainnya.

  1. Iran

Iranjuga dapat di taklukan dan neger0negeri di sebrang sungai. Dengan demikian, habislah riwayat imperiunPersia.

  1. Syam

Ketika umar menjadi khalifah, beliau mengangkat Abu Ubaidah sebagai panglima tertinggi untuk kawasan Syam.

  1. Yordania

Awalnya Yordania ini di kuasai oleh orang-orang Romawi namun di kalahkan oleh pasukan kaum muslimin.

  1. Suria

Dibawah komando Abu Ubaidah kawasan ini dikepung oleh empat orang panglima muslim yaitu Abu Ubaidah, Khalid Bin Walid, Amr bin Ash, Syurahbil bin Hsanah. Akhirnya negeri ini berhasil di tundukan

  1.  Palestina

Sejak terjadinya Isra Mi;raj, Aqsha adalah Negara suci ketiga yang ada di Palestina dan tidak dapat di pisahkan oleh kaum muslimin. Kaum muslimin betul-betul ingin membebaskan dari kaum kekuasaan Romawi. Dengan azam keseriusannya bangsa Romawi memilih damai dan bangsa Romawi meminta umar bin Khattab dating pada penyerahankotaPalestina. Pada kesempatan itu Umar membuat kesepakatan memberikan rasa aman dalam keamanan harta benda, jiwa, Syiar keagamaan pada penduduk yang asli.

  1. 3.    Memberdayakan Ulama, Gubernur, dan Para pegawai untuk kepentingan Dakwah

Segala kebijakan harus sesuai dan mendukung kemajuan dakwah Islam. di antaranya ialah :

  1. Seringnya Umar memanggil para ulama untuk membicarakan permasalahan setelah meluasnya wilayah, bagaimana cara memanfaatkan tanah dari negeri yang dikuasasi, cara penggunaan harta Negara yang menangani keuangan
  2. Memberikan pengarahan kepada para pegawainya tentang nilai-nilai islam secara terus menerus agar para pegawainya tidak menjadikan wilayah kekuasannya sebagai sapi perah, tetapi menjadikan sebagai saranan untuk membina masyarakat agar berdaya du dunia dan sukses di akhirat. Umar pernah mengirim Muhammad bin Maslamah untuk membakar pintu gerbang Gubernur Kufah Saad karena hal itu akan menjadi sekat antara pemimpin dengan rakyatnya. Umar jugs menghukum para pegawainya yang pernah berlaku Zalim kepada rakyatnya.

DAKWAH DAN KONDISI MASYARAKAT PADA MASA

UTSMAN BIN AFFAN

  1. Biografi Utsman Bin Affan

Utsman bin Affan  574656 / 12 Dzulhijjah 35 H berumur 81–82 tahun adalah sahabat Nabi Muhammad SAW yang termasuk Khulafaur Rasyidin yang ke-3. Utsman adalah seorang yang saudagar yang kaya tetapi sangatlah dermawan. Ia juga berjasa dalam hal membukukan Al-Qur’an. Ia adalah khalifah ketiga yang memerintah dari tahun 644 (umur 69–70 tahun) hingga 656 (selama 11–12 tahun).[2]

Utsman bin affan bin Ash bin Umayyah bin Abdisyams bin Abdi Manaf lahir di Thaif, enam tahun setelah tahun gajah. Beliau terkenal pemalu, menjaga kehormatan diri, tawadhu, mulia, dermawan. Beliau merupakan seorang pedagang yang mempunyai modal besar sebelum Islam. banyak hartanya diinfakan untuk kepentingan dakwah. Utsman adalah orang yang dekat dengan Rasulullah. Beliau mendapat gelar dzun nurain karena menikah dengan dua anak Rasulullah. Yaitu Ruqayyah dan Ummu Kultsum. Beliau meriwayatkan hadist dari Rasulullah sebanyak 146 hadis.

Setelah Umar meninggal, Utsman membuat kebijakan untuk menetapkan Al-Quran standar untuk menghindari perpecahan di tubuh umat. Beliau juga memperluas masjidilharam Mekkah dan Masjid Nabawi Madinah. Kondisi Sosial dan Ekonomi masyarakat mengalami peningkatan karena meningkatnya sumber pendapatan Negara dan penghasilan rakyat.

  1. 2.    Metode Dakwah
  • Ø Berdakwah dengan melaksanakan tugas
  • Ø Meneruskan dakwah dengan para pendahulunya, Rasulullah, Abu Bakar, dan Umar
  • Ø Berdakwah dalam bingkai Al-Quran dan As-Sunah
  • Ø Mengikuti tradisi baik yang sudah ada
  • Ø Tidak mendahulukan hukuman dalam mendidik rakyat
  • Ø Mengajak rakyat agar hidup zuhud
  1. 3.    Futuhat

Perluasan wilayah pada masa Utsman meliputi:

  1. Barat Afrika yang dipimpin oleh Abdullah bin sa’d bin abi Sarh
  2. Negeri-negeri diseberang sungai seperti :

-       Pasukan Islam melewati sungai Jihun dan menguasai Baikh, heart,Afghanistandan  Ghaznah

-       Futuhat berlanjut ke Ammuriyyah, Adzerbain, sebagian negeri Thabaristan, selatan laut Qazwin

-       Kawasan Nubah dansudan(negeri-negeri selatan Mesir)

  1. Cyprus

Kaum muslimin mampu melakukan perlawanan dimedanair dengan menggunakan armada laut sehingga mampu menguasai kepulauanCyprustahun 28 H di bawah komando Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Awalnya Cyprus di kenal dengan samudera Romawi, tetapi sejak Cyprus di taklukan di sebutnya dengan lautan Islam.

DAKWAH DAN KONDISI MASYARAKAT PADA MASA

ALI BIN ABI THALIB

  1. 1.    Biografi Ali bin abi Thalib

Ali bin Abi Thalib (599661) adalah salah seorang pemeluk Islam pertama dan juga keluarga dari Nabi Muhammad. Menurut Islam Sunni, ia adalah Khalifah terakhir dari Khulafaur Rasyidin. Sedangkan Syi’ah berpendapat bahwa ia adalah Imam sekaligus Khalifah pertama yang dipilih oleh Rasulullah Muhammad SAW.

Uniknya meskipun Sunni tidak mengakui konsep Imamah mereka setuju memanggil Ali dengan sebutan Imam, sehingga Ali menjadi satu-satunya Khalifah yang sekaligus juga Imam. Ali adalah sepupu dari Muhammad, dan setelah menikah dengan Fatimah az-Zahra, ia menjadi menantu Muhammad.[3]

Ali bin Abi Thalib bin Abdi al Muthalib bin Hasyim bin abdi Manaf bin Qushay Ali adalah anak paman Rasulullah. Ibunya bernama Fathimah binti Asad bin Hasyim. Beliau dilahirkan sebelum nabi diutus, dan masuk Islam ketika berumurlimatahun ada juga yang mengatakan ketika berumur delapan tahun. Ali dikenal sebagai pemberani, dalam masalah qadha beliau adalah pakarnya. Beliau memiliki keimanan yang kuat pemahaman Islam yang baik dan memiliki kemampuan untuk mempengaruhi orang lain, seperti masuknya Islam penduduk hamadhan seluruhnya ditangan beliau dalam satu hari.

Beliau tumbuh di Rumah Rasulullah dan tidur di kasur Rasulullah dan berselimut pada malam hijrah. Beliau tidak pernah absen dalam seluruh peperangan bersama Nabi, kecuali perang Tabuk. Di perang badar beliau membawa bendera kaum muslimin. Saat itu umur beliau 20 tahun.

Ketika nabi meninggal dunia, dilakukan musyawarah untuk meneruskan dakwah yang sebelumnya dilakukan oleh nabi. Setelah melalui pembicaraan yang panjang akhirnya Abu bakar terpilih menjadi khalifah. Hari berikutnya dilakukan pembaiatan missal di Masjid Nabawi.Adayang mengatakan bahwa Ali ikut dalam bai’at tersebut, tetapi ada juga yang mengatakan bahwa Ali baru membaiat Abu Bakar enam bulan setelah beliau di lantik. Penyebabnya ingin menjaga perasaan Fathimah, istrinya yang masih berbeda pnedapat dengan Abu Bakar. Setelah Fathimah meninggal dunia, beliau baru membaiat Abu Bakar.

Setelah Ustman meninggal dunia diganti oleh Ali. Penduduk Madinah sepakat menunjuk beliau meskipun beliau sendiri tidak menyenangi posisi itu. Beliau mau ditunjuk menjadi khalifah karena ingin mencegah fitnah besar.

Setelah menjadi khalifah, beliau sibuk menghadapi orang-orang yang tidak setuju dengan pemerintahannya. Terjadinya perang jamal, shaffin dan nahrawan. Banyak hokum yang dapat di ambil pelajaran dari perang saudara yang terjadi pada zaman Ali bin Abi Tahlib, diantaranya memperlakukan tawanan dengan baik dan melepaskan setelah perang atau membuat perjanjian untuk tidak kembali berperang, tidak membagi harta musuh kecuali senjata dan kendaraan yang kalah perang sebagai tawanan atau budak, tidak mengharamkan kepada para penantang akan haknya untuk menerima harta fa’i atau untuk shalat di Masjid dan tidak boleh memulai perang untuk mereka.

Ali meninggal dunia di tangan Abdurrahman bin Muljam al khariji di Kufah pada Fajar, tanggal 21 Ramadhan tahun 40 H dalam usia 58 tahun.

  1. 2.    Futuhat

Futuhat pada masa Ali bin Abi Thalib terhenti karena kaum muslimin sedang menghadapi masalah internal yang cukup pelik.

DAKWAH DAN KONDISI MASYARAKAT

PADA MASA UMAYYAH

Bani Umayyah memegang kekuasaan kurang lebih 90 tahun. Awalnya berada di Madinah namun di pindah ke Mu’awiyyah Damaskus. Khalifah besar pada masa kekuasaan Bani Umayyah adalah Mu’awiyah bin Abi Sufyan, Abdul Malik bin Marwah, Al-walid bin Abdil Malik, Umar Abdul Aziz dan Hisyam bin Abdul Malik.

  1. 1.    Membuka wilayah dakwah baru
  2. Asia Kecil dan Negeri Romawi

Kaum muslimin menggunakan armada laut yang cukup besar. Kapal yang dipakai sebanyak 1700 kapal. Dalam ekspedisi ini kaum muslimin banyak menguasai kepulauan di kawasan ini. Kemudian mereka maju menuju konstantinopel.

  1. Kawasan Afrika Utara danAndalusia

Musa bin Nushair perjalanan menuju negeriAndalusia. Hasilnya Cordova,Granada, dan Thulaithilah menjadi markas kaum muslimin. Disini mereka membangun budaya ilmiah, pemikiran dan arsitektur selama lebih dari 8 abad.

  1. Kawasan Sind dan negeri di seberang sungai

Di kawasan timur laut, yaitu negeri-negeri yang terletak di seberang sungai atau negeri-negeri yang terletak di antara dua sungai Jihur dan Sihun. Di kawasan tenggara, di daerahSind, Muhammad bin Al-Qasim atas Tsaqafi berangkat menuju kawasan ini dengan menggunakan Jalan darat dan laut.

  1. 2.    Dakwah di bidang kajian dan penulisan Ilmiah

Pada masa ini sebagai tonggak ilmu-ilmu keislaman untuk masa berikutnya. Gerakan ilmiah bersamaan dengan gerakan futuhat Islamiyyah. Setiap kali pasukan menundukkan negeri baru, selalau ditindaklanjuti oleh para ulama dengan mengajrkan fikih, syariah, hadis, tafsir. Mereka mengajarkan Islam dan menjelaskan kepada penduduk problematika yang dihadapi mereka.

Menyebarnya ulama keberbagai negeri membuahkan gerakan ilmiah di negeri tersebut. Berdirilah kajian dan khalaqah ilmu. Semua orang mendapatkan kesempatan yang sama untuk menimba ilmu seluas-luasnya. Banyaknya ulama yang muncul selain di Arab. Islam bukan milik Arab dan Islam tidak di benci oleh Negara yang di duduki.

  1. 3.    Memakmurkan masjid dengan kajian keagamaan

Rabiah Ar ra’y duduk di masjid Nabawi Madinah dan mengajar di situ. Di sampingnya duduk imam Malik, Imam Hasan dan Orang-orang yang terkemuka di Madinah. Di Masjid Bashrah, halaqah Hasan al Bashri sangat terkenal tentang fikih dan hadis. Selain ulama yang melakukan kajian ilmiah, ada orang yang disebut al-qashshas/ al wu’adz (menyampaikan ilmu dengan model bercerita).

  1. 4.    Pemurnian dan penggalakan berbahasa Arab

Akibat meluasnya negeri Islam terjadinya kontak budaya antara masyarakat pendatang degan penduduk asli. Untuk mengantisipasi terjadinya kerusakan Bahasa Arab yang juga bahasa Al-Quran para ulama berhasil meletakkan kaidah-kaidah Bahasa Arab.

  1. 5.    Pengumpulan, Penulisan dan Peletakan Dasar-Dasar Metodologi Hadis

Kepedulian tersebut yaitu pengkajian, pengumpulan, dan pembukuan hadis. Perhatian terhadap hadis pada saat itu menempati posisi paling terdepan dalam bidang kajian ilmiah.Paraulama sangat giat mengumpulkan hadis. Mereka bepergian jauh hanya untuk menemui silsilah informasi tentang hadis yang sedang diteliti.

  1. 6.    Bidang Hukum Islam

Masa bani Umayyah, ijtihad dilakukan di awal dengan mengacu kepada khazanah yang telah di tinggalkan oleh para khulafaur rasyidin. Mazhab fikih yang sempat belum lahir pada masa ini, meskipun para imam mujtahid, seperti Al-auza’i, Ibrahim an Nakha’i, Jafar ash Shodiq sudah mulai bermunculan.

Pada masa akhir pemerintahan bani umayyah dua imam mazhab muncul, abu hanifah (80-150 H) di Irak dan Imam Malik bin Anas (96-179 H) di Madinah. Imam Malik menulis kitab Muwattha’ yang sampai hari ini tetap menjadi rujukan dalam bidang hadis dan fikih.

DAKWAH DAN KONDISI MASYARAKAT

PADA MASA ABBASIYAH

  1. 1.    Periode Dinasti Abbasiyyah

Khilafah Abbasiyah merupakan kelanjutan dari khilafah Umayyah, dimana pendiri dari khilafah ini adalah keturunan Al-Abbas, paman Nabi Muhammad SAW, yaitu Abdullah al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn al-Abbas. Dimana pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial, dan budaya.

Kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, dari tahun 132 H (750 M) s.d. 656 H (1258 M). Pakar sejarah membagi dinasti Abbasiyyah dalam dua periode, yaitu Periode Abbasiyyah I (132 H-447 H), dan Perode II (447-656 H). Selama dinasti ini berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial dan budaya. Pada periode awal merupakan masa keemasan atau masa kemajuan. Sedangkan periode kedua merupakan periode kemunduran. Periode ini ditandai dengan melemahnya pemimpin, hilangnya wibawa khalifah, terpecahnya negeri-negri, dan berkuasanya hawa nafsu.

Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan politik itu, para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Bani Abbas menjadilimaperiode:

a)    Periode Pertama (132 H/750 M-232 H/847 M), disebut periode pengaruhPersiapertama.

b)   Periode Kedua (232 H/847 M-334 H/945 M), disebut pereode pengaruh Turki pertama.

c)    Periode Ketiga (334 H/945 M-447 H/1055 M), masa kekuasaan dinasti Buwaih dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah. Periode ini disebut juga masa pengaruhPersiakedua.

d)   Periode Keempat (447 H/1055 M-590 H/l194 M), masa kekuasaan dinasti Bani Seljuk dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah; biasanya disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua.

e)    Periode Kelima (590 H/1194 M-656 H/1258 M), masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif di sekitarkotaBagdad.

Masa pemerintahan Abu al-Abbas, pendiri dinasti ini sangat singkat, yaitu dari tahun 750-754 M. karena itu, pembina sebenarnya dari daulat Abbasiyah adalah Abu Ja’far al-Manshur (754-775 M). Dia dengan keras menghadapi lawan-lawannya dari Bani Umayyah, Khawarij, dan juga Syi’ah yang merasa dikucilkan dari kekusaan. Untuk mengamankan kekuasaannya, tokoh-tokoh besar yang mungkin menjadi saingan baginya satu per satu disingkirkannya. Abdullah bin Ali dan Shalih bin Ali, keduanya adalah pamannya sendiri yang ditunjuk sebagai gubernur oleh khalifah sebelumnya di Syria dan Mesir, karena tidak bersedia membaiatnya, dibunuh oleh Abu Muslim al-Khurasani atas perintah Abu Ja’far. Abu Muslim sendiri karena dikhawatirkan akan menjadi pesaing baginya, dihukum mati pada tahun 755 M.

Dalam pembahasan ini akan di bahas perjalanan dinasti Abbasiyyah dari masa keemasan selanjutnya masa kemunduran. Lalu berbicara tentang gerakan dakwah pada masa ini.

a)    Masa Keemasan

Pemerintahan daulat Abbasiyah diletakkan dan dibangun oleh Abu al-Abbas dan Abu Ja’far al-Manshur, maka puncak keemasan dari dinasti ini berada pada tujuh khalifah sesudahnya, yaitu al-Mahdi (775-785 M), al-Hadi (775- 786 M), Harun al-Rasyid (786-809 M), al-Ma’mun (813-833 M), al-Mu’tashim (833-842 M), al-Wasiq (842-847 M), dan al-Mutawakkil (847-861 M). Pada masa al-Mahdi perekonomian mulai meningkat dengan peningkatan di sektor pertanian melalui irigasi dan peningkatan hasil pertambangan seperti perak, emas, tembaga dan besi. Terkecuali itu dagang transit antara Timur dan Barat juga banyak membawa kekayaan. Bashrah menjadi pelabuhan yang penting.

Popularitas daulat Abbasiyah mencapai puncaknya di zaman khalifah Harun al-Rasyid (786-809 M) dan puteranya al-Ma’mun (813-833 M). Kekayaan yang banyak dimanfaatkan Harun al-Rasyid untuk keperluan sosial. Rumah sakit, lembaga pendidikan dokter, dan farmasi didirikan. Pada masanya sudah terdapat paling tidak sekitar 800 orang dokter. Disamping itu, pemandian-pemandian umum juga dibangun. Kesejahteraan, sosial, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan serta kesusasteraan berada pada zaman keemasannya. Pada masa inilah negara Islam menempatkan dirinya sebagai negara terkuat dan tak tertandingi. Al-Ma’mun, pengganti al-Rasyid, dikenal sebagai khalifah yang sangat cinta kepada ilmu. Pada masa pemerintahannya, penerjemahan buku-buku asing digalakkan. Untuk menerjemahkan buku-buku Yunani, ia menggaji penerjemah-penerjemah dari golongan Kristen dan penganut agama lain yang ahli. Ia juga banyak mendirikan sekolah, salah satu karya besarnya yang terpenting adalah pembangunan Bait al-Hikmah, pusat penerjemahan yang berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang besar. Pada masa Al-Ma’mun inilahBaghdadmulai menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan.

Al-Mu’tashim, khalifah berikutnya (833-842 M), memberi peluang besar kepada orang-orang Turki untuk masuk dalam pemerintahan, keterlibatan mereka dimulai sebagai tentara pengawal. Tidak seperti pada masa daulat Umayyah, dinasti Abbasiyah mengadakan perubahan sistem ketentaraan. Praktek orang-orang muslim mengikuti perang sudah terhenti. Tentara dibina secara khusus menjadi prajurit-prajurit profesional. Dengan demikian, kekuatan militer dinasti Bani Abbas menjadi sangat kuat.

Walaupun demikian, dalam periode ini banyak tantangan dan gerakan politik yang mengganggu stabilitas, baik dari kalangan Bani Abbas sendiri maupun dari luar. Gerakan-gerakan itu seperti gerakan sisa-sisa Bani Umayyah dan kalangan intern Bani Abbas, revolusi al-Khawarij di Afrika Utara, gerakan Zindik di Persia, gerakan Syi’ah, dan konflik antar bangsa dan aliran pemikiran keagamaan. Semuanya dapat dipadamkan. Dalam penyelenggaraan Negara.

Sebagaimana diuraikan di atas, puncak perkembangan kebudayaan dan pemikiran Islam terjadi pada masa pemerintahan Bani Abbas. Akan tetapi, tidak berarti seluruhnya berawal dari kreativitas penguasa Bani Abbas sendiri. Sebagian di antaranya sudah dimulai sejak awal kebangkitan Islam. Dalam bidang pendidikan, misalnya, di awal Islam, lembaga pendidikan sudah mulai berkembang.

b)   Masa Kemunduran

Masa disintegrasi ini terjadi setelah pemerintahan periode pertama Bani Abbasiyah mencapai masa keemasannya, pada masa berikutnya pemerintahan dinasti ini mulai menurun, terutama di bidang politik. Dimana salah satu sebabnya adalah kecenderungan penguasa untuk hidup mewah dan kelemahan khalifah dalam memimpin roda pemerintahan.

Berakhirnya kekuasaan dinasti Seljuk atasBaghdadatau khilafah Abbasiyah merupakan awal dari periode kelima. Pada periode ini, khalifah Abbasiyah tidak lagi berada di bawah kekuasaan suatu dinasti tertentu, walaupun banyak sekali dinasti Islam berdiri.Adadiantaranya yang cukup besar, namun yang terbanyak adalah dinasti kecil. Para khalifah Abbasiyah, sudah merdeka dan berkuasa kembali, tetapi hanya diBaghdaddan sekitarnya. Wilayah kekuasaan khalifah yang sempit ini menunjukkan kelemahan politiknya. Pada masa inilah tentara Mongol dan Tartar menyerangBaghdad.Baghdaddapat direbut dan dihancurluluhkan tanpa perlawanan yang berarti. Kehancuran Baghdad akibat serangan tentara Mongol ini awal babak baru dalam sejarah Islam, yang disebut masa pertengahan.

Masa kemunduran dimulai sejak Abbasiyyah diperintah oleh khalifah Abu Ja’far Muhammad al-Muntashir (247-248/861-862) sampai jatuhnyaBaghdadsaat khalifah berada di tangan Abu Ahmad Abdullah al-Musta’shim (640-656/1242-1258).

Sebagaimana terlihat dalam periodisasi khilafah Abbasiyah, masa kemunduran dimulai sejak periode kedua. Namun demikian, faktor-faktor penyebab kemunduran itu tidak datang secara tiba-tiba. Benih-benihnya sudah terlihat pada periode pertama, hanya karena khalifah pada periode ini sangat kuat, benih-benih itu tidak sempat berkembang. Dalam sejarah kekuasaan Bani Abbas terlihat bahwa apabila khalifah kuat, para menteri cenderung berperan sebagai kepala pegawai sipil, tetapi jika khalifah lemah, mereka akan berkuasa mengatur roda pemerintahan. Beberapa factor yang menyebabkan daulah Abbasiyyah mengalami kemunduran, diantaranya:

  • Adanya friksi dalam tubuh daulah Abbasiyyah. Hal tersebut membuat daulat hanya sibuk mempertahankan wilayah yang sudah ada dan mengamankan perbatasan wilayah. Upaya untuk mempertahankan tiak berhasil sepenuhnya, karena ada beberapa wilayah yang berhasil melepaskan diri
  • Gayahidup mewah dan foya-foya pada lingkungan pejabat dan keluarganya
  • Khalifah yang berkuasa bukan sosok yang kuat karena mudah dipengaruhi oleh para pegawainya
  • Persaingan antar Bangsa, Khilafah Abbasiyah didirikan oleh Bani Abbas yang bersekutu dengan orang-orang Persia. Persekutuan dilatarbelakangi oleh persamaan nasib kedua golongan itu pada masa Bani Umayyah berkuasa. Keduanya sama-sama tertindas. Setelah khilafah Abbasiyah berdiri, dinasti Bani Abbas tetap mempertahankan persekutuan itu.
  • Kemerosotan ekonomi. Khilafah Abbasiyah juga mengalami kemunduran di bidang ekonomi bersamaan dengan kemunduran di bidang politik.
  • Serangan Mongol ke jantungBaghdadmengakhiri riwayat daulah Annasiyyah.
  1. 2.    Kehidupan Dakwah  Di Masa  Daulah Abbasiyyah

Daulah Abbasiyyah adalah daulah yang berdiri tegas di atas panji-panji Ilam. Sealam limaabad perjalanannya, daulah ini menjadi sarana dakwah dan pendukung dakwah Islam. Dengan semangat dakwah yang tinggi, daulah ini menjadi kerajaan Islam yang telah dapat mengubah dunia dari gelap menjadi terang, dari mundur menjadi maju. Dakwah pada masa ini dapat di bagi dalam dua level, yaitu :

a)    Level Negara dan penguasa

  • Parakhalifah Abbasiyyah juga merupakan seorang ulama yang cinta ilmu. Putra-putra khalifah mendapatkan pendidikan khusus tentang agama dan kesusastraan, agar mereka menjadi ulama dan pujangga.
  • Mendorong dan memfasilitasi upaya penerjemahan berbagai ilmu dari berbagai bahasa ke bahasa Arab seperti filsafat, ilmu kedokteran, ilmu bintang, ilmu pasti, ilmu fisika, ilmu musik, dan lain-lain.
  • Melakukan perluasan dan pembinaan wilayah dakwah.
  • Mendorong dan memfasilitasi pembaruan system pendidikan dengan munculnya Madrasah-madrasah di Baghdad.

b)   Level Masyarakat

Pada level masyarakat aktivitas keislaman tidak tidur, dan tidak terpengaruh oleh kelemahan  dan kerusakan yang terjadi dilevel Negara. Aktivitas ilmiah dan dakwah menjamur di Baghdad. Masjid-masjid dan sekolah-sekolah penuh dengan kajian ilmiah. Materinya sangat bervariasi, diantaranya kajian kitab, membaca Al-Qur’an, meriwayatkan hadis, mendengarkan ceramah agama. Materi yang menonjol adalah tazkiyatun nufus (pembersih hati), peringatan tentang negeri akhirat, serta seruan agar tidak terpedaya oleh kehidupan dunia.

Imam-imam mazhab hukum yang empat hidup pada masa pemerintahan Abbasiyah pertama. Imam Abu Hanifah (700-767 M) dalam pendapat-pendapat hukumnya dipengaruhi oleh perkembangan yang terjadi di Kufah, kotayang berada di tengah-tengah kebudayaan Persiayang hidup kemasyarakatannya telah mencapai tingkat kemajuan yang lebih tinggi. Karena itu, mazhab ini lebih banyak menggunakan pemikiran rasional daripada hadits. Muridnya dan sekaligus pelanjutnya, Abu Yusuf, menjadi Qadhi al-Qudhat di zaman Harun al-Rasyid.

DAKWAH DAN KONDISI MASYARAKAT

PADA MASA UTSMANIYYAH

  1. 1.    Perode Dinasti Utsmaniyyah

Lahir pada abad ke-7 H (abad ke-13 M). pendirinya Utman bin Ertohrul yang dilahirkan di Anadol tahun657 H. Utsman memproklamirkan daulah ini dengan memanfaatkan lenyapnya daulah saljuk akibat serangan Mongol. Setelah Ustman mengumumkan dirinya sebagai raja besar, setapak demi setapak wilayahnya diperluas. Ibukotakerajaannya di Broessa. Setelah Utsman meninggal dunia, anak-anaknya berhadapan dengan timur lenk (pasukan Mongol). Sehingga daulah Utsmani kalah dan harus tunduk pada kekuasaan Mongol. Ketika timur lenk meninggal dunia, Mongol di bagi-bagi kepada anak-anaknya sehingga timbulah sengketa.

Momentum ini di manfaatkan oleh daulah Utsmaniyyah untuk tumbuh kembali. Mereka mendirikan Madrasah Utsmaniyyah pertama berlokasi di Azmer. Mereka juga membuat lembaga militer yang berdiri di atas landasan syariat.

  1. 2.    Masa Kejayaan

Di pegang oleh Muhammad Al-Fatih berkuasa menggantikan ayahnya Murad II tahun 855 H. setelah di lanjut oleh Sultan Salim I berhasil menaklukan Persia, Syria dan dinasti Mamalik di Mesir, selanjutnya Sultan Sulaiman al-Qanuni menundukkan Iraq, Belgrada, pulau Rodhes, Tunis, Budapest, Yaman.

Dengan demikian luas wilayah Turki Utsmani pada masa Sultan Sulaiman al-qanuni mencakup Asia kecil, Armenia, Irak, Siria, Hejaz, dan Yaman. Di Asia, Mesir,Libia,Tunisdan Aljazair.Di Afrika,Bulgaria,Yunani,Yugoslavia, Hongaria dan Rumania Eropa. Pada saat inilah Islam kembali tampil menampakkan kemajuannya. Di Budapest Sultan Sulaiman mengubah Gereja menjadi Masjid dan menerpakan administrasi daulan Utsmaniyyah. Di bidang persenjataan, sampai tahun 1700 M Utsmaniyyah adalah Negeri yang paling maju di dunia.

  1. 3.    Masa Kemunduran

Memasuki awal abad ke II (pertengahan abad ke-16 M) Daulah Utsmaniyyah menampakkan kemunduran, kekuatannya berkurang runtuh.

  1. 4.    Perang Ustmaniyyah-Habsburg

Merujuk pada rangkaian konflik militer antara Dinasti Utsmaniyah yang berpusat di Turki dengan Dinasti Habsburg yang memerintah di Kekaisaran Austria, Spanyol Habsburg dan untuk waktu-waktu tertentu, Kekaisaran Romawi Suci dan Kerajaan Hongaria. Bagian utama perang terjadi ini di Hongaria. Awalnya penaklukan Utsmaniyah di Eropa sukses dengan kemenangan besar atas Hongaria dan sekutunya di Mohacs. Sejak pertempuran ini Hongaria menjadi negara bawahan yang membayar upeti kepada Kesultanan Utsmaniyah.[4]

  1. 5.    Faktor-faktor Keruntuhan
  2. Banyak kerusakan dan penyimpangan yang terjadi di dalam tubuh pemerintahan
  3. Kekerasan dan hukum rimba
  4. Faktor eksternal, mencoba melenyapkan daulah ini
  5. Cenderung adanya penyelewangan
  6. Futuhat yang dilakukan daulah ini, tidak di ikuti oleh sosialisasi ajaran agama

 

 

DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Bani_Abbasiyah

http://id.wikipedia.org/wiki/Abu_Bakar_Ash-Shiddiq

http://id.wikipedia.org/wiki/Ali_bin_Abi_Thalib

http://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Utsmaniyah-Habsburg

http://id.wikipedia.org/wiki/Utsman_bin_Affan

http://www.scribd.com/doc/9112080/Sejarah-Daulah-Abbasiyah\

www.pesantrenonline.com

Ilaihi, Wahyu dan Harjani Hefni.2007. Pengantar Sejarah Dakwah.Jakarta:

Kencana Prenada Media Group.

Yatim,Badri.2007. Sejarah Peradaban Islam.Jakarta:Grafindo Persada


[1] Di Unduh: tgl 1 April 2011. Jam 13.00. http://id.wikipedia.org/wiki/Abu_Bakar_Ash-Shiddiq

[2] Di Unduh: tgl 1 April 2011. Jam 13.15. http://id.wikipedia.org/wiki/Utsman_bin_Affan

[3] Di Unduh: tgl 1 April 2011. Jam 13.20. http://id.wikipedia.org/wiki/Ali_bin_Abi_Thalib

[4]Di Unduh: tgl 1 April 2011.Jam 13.50. http://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Utsmaniyah-Habsburg

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s