Etika Dakwah

KARAKTERISTIK DAN KODE ETIK DAKWAH BAGI

PENYULUH, KONSULTAN ISLAM, WAROIS, MUBALIGH 

DALAM BERBICARA, BERPAKAIAN DAN BERPRILAKU

 

  1. A.  Pendahuluan

Pada rentang waktu yang panjang, dakwah merupakan fenomena agama dan social, yang sama tuanya dengan agama Islam. Dakwah juga merupakan sesuatu yang tanpa akhir (on going proses) antara dakwah dan Islam terjadi hubungan dialektis, Islam tersebar karena dakwah, dan dakwah dilakukan atas dasar tuntunan ajaran Islam. Setidaknya ada dua hal yang penting dalam hal ini. Pertama, adanya kebenaran yaitu pesan-pesan nilai hidup dan kehidupan yang selayaknya dimengerti dan diterima, serta dijadikan dasar kehidupan oleh segenap manusia. Kedua adanya keterbukaan, yaitu proses penyerahterimaan dan pengamalan pesan antara da’I dan mad’u hendaknya terjadi secara manusiawi, berdasarkan atas rasionalitas tertentu, dan tanpa paksaan. Perjalanan dakwah bukan hanya perjalanan yang damai tetapi juga dinamis. sebagai wujud kedimanisan itu, dalam proses yang ditempuhnya, dakwah memiliki kekayaan nuansa. Hal itu karena dakwah harus berhadapan dengaqn dinamika kehidupan manusia dimanapun berada.

Oleh karena itu dakwah dituntut untuk mengalami dinamika secara internal, yang dalam prosesnya terjadi “tarik ulur” antara dakwah dengan kondisi masyarakat. Antara “merekayasa” kondisi masyarakat, dan “direkayasa” oleh masyarakat yang “diciptakannya”. Sehingga adanya dinamika dalam dakwah dan kajiannya, merupakan konsekuensi logis dari adanya dinamika tersebut.[1]

Dakwah tidak hanya terpaku pada podium-podium di Mesjid, tapi banyak lagi metode-metode dakwah yang dapat dilakukan demi keefektifan mengsiarkan Islam lebih jauh. Termasuk metode penyuluhan, bimbingan dan konsultasi Islam yang juga dapat menjadi alternative dalam berdakwah.

Dari realita dan fakta yang ada, ternyata pergeseran makna dakwah hingga mempunyai dua konotasi tidak sedikit disebabkan oleh etika para dainya. Antara lain banyaknya dai yang menempatkan dirinya pada bidang yang bertolak belakang dengan inti maupun substansi amar makruf nahi munkar. Contohnya adalah seorang dai yang menjadi juru kampanye partai politik atau iklan komersil yang dengan kemahiran retorika mengolah ayat atau hadits untuk dijadikan bahan melegitimasi tindakan-tindakan tertentu yang tidak sejalan dengan etika Islam secara umum atau etika dakwah secara khusus

Karakteristik zaman terus berubah. Zaman sekarang materialisme lebih mendominasi daripada spiritualisme. Individualisme lebih dominan ketimbang kebersamaan. Pragmatisme lebih dominan daripada akhlaq. Betapa banyak rauan dan promosi untuk berbuat kejahatan dan rintangan untuk berbuat kebaikan. Sehingga orang yang berpegang teguh kepada agamanya bagaikan memegang bara api.

Nabi menggambarkan dalam sabdanya, “akan datang suatu masa di mana nanti orang yang sabar dalam memegang ajaran agama bagaikan orang yang memegang bara api”(HR Tirmidzi).

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kata “Etika” diartikan sebagai ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk atau ilmu tentang hak dan kewajiban moral. Dalam batasan pengertian itu maka etika bisa duniawi dan bisa ukhrawi. Sebab baik buruknya sesuatu masih perlu bahasan tertentu. “Etika” berasal dari Yunani kuno. Kata Yunani “Ethos” dalam bentuk tunggal mempunyai banyak arti: tempat tinggal yang biasa, kebiasaan, adat, akhlak, watak, perasaan, sikap cara berfikir. Etika berarti ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan.[2]

Dari pengertian tadi semakin jelas bahwa kajian atau tinjauan kita berkenaan dengan etika dakwah adalah moral umum dalam batasan agama, apa dan bagaimana seharusnya suatu etika dakwah tersosialisasi dalam pribadi dainya secara khusus dan pada lembaganya secara umum.

Membahas masalah etika dakwah bukan masalah sepele atau singkat, sesingkat kita memahami suatu masalah atau membahasnya. Dalam soal dakwah semua acuan kembali kepada teladan tunggal yang ditetapkan Allah untuk dirujuki dalam menghadapi berbagai masalah hidup dan kehidupan, baik menyangkut duniawi maupun ukhrawi. Semua contoh yang terbaik itu ada pada diri Rasulullah SAW[3]. Allah SWT berfirman:

ô‰s)©9 tb%x. öNä3s9 ’Îû ÉAqߙu‘ «!$# îouqó™é& ×puZ|¡ym `yJÏj9 tb%x. (#qã_ötƒ ©!$# tPöqu‹ø9$#ur tÅzFy$# tx.sŒur ©!$# #ZŽÏVx. ÇËÊÈ

Aritinya: “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu tauladan yang baik bagi siapa saja yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.[4]

Maka kelompok kami akan mendeskripsikan bagaimana karakteristik kode etik dakwah bagi penyuluh, pembimbing, konsultan Islam, warois baik dalam berbicara, berpakaian dan berprilaku.

 

  1. B.  Pembahasan
  2. 1.    Penyuluh

Penyuluhan merupakan pemberian informasi baik yang dipinta atau tidak, bernasalah atau tidak bermasalah dari pihak penyuluh kepada yang disuruh yang sudah terprogram. Sedangkah penyuluh adalah orang yang melakukan penyuluhan.

Sejak semula penyuluh agama berperan sebagai pembimbing umat. Dengan rasa tanggung jawab tinggi, mereka membawa masyarakat kepada kehidupan yang aman dan sejahtera. Penyuluh agama ditokohkan oleh masyarakat bukan karena penunjukkan atau pemilihan, apalagi diangkat tangan suatu keputusan, akan tetapi dengan sendirinya menjadi pemimpin masyarakat karena kewibawaannya.

Penyuluh agama sebagai pemuka agama selalu membimbing, mengayomi dan menggerakan masyarakat untuk berbuat baik dan menjauhi perbuatan yang terlarang, mengajak kepada sesuatu yang menjadi keperluan masyarakatnya dalam membina wilayahnya baik untuk keperluan sarana kemasyarakatan maupun peribadatan.

Tugas penyuluh agama tidak semata-mata melaksanakan penyuluh agama dalam arti sempit berupa pengajian, akan tetapi seluruh kegiatan pendidikan baik berupa bimbingan dan penerangan tenang berbagai program pembangunan maupun pengamalannya. Posisi penyuluh agama ini sanat strategi baik untuk menyampaikan misi keagamaan maupun misi pembangunan.

Peranan penyuluh agama dalam pembangunan adalah sebagai motivator dengan usaha memberikan penerangan dan pengertian tentang maksud dan tujuan pembangunan, mengajak serta menggerakannya untuk ikut serta aktif menyukseskan pembangunan. Penyuluh agama sebagai pendorong masyarakat untuk berpartisifasi aktif dalam pembangunan berperan untuk ikut serta mengatasai berbagai hambatan yang mengganggu jalannya pembangunan, khususnya mengatasai dampak negative dari perkembangan masyarakat yang dinamis.

Cara menyampaikan penyuluh agama kepada masyarakat adalah dengan melalui bahasa yang sederhana, mudah dimengerti oleh masyarakat dengan pendekatan agama.[5]

Jadi yang dimaksud dengan Kode Etik Penyuluh adalah tata cara yang berkenaan dengan prilaku seorang Mursyid dalam menyampaikan ajaran Islam demi keefektifan dakwah.[6]

  1. 2.      Konsultan Islam

Konsultasi merupakan salah satu strategi bimbingan yang penting sebab banyak masalah karena sesuatu hal akan lebih berhasil jika ditangani secara tidak langsung oleh konselor. Konsultasi dalam pengertian umum dipandang sebagai nasihat dari seorang yang profesional.[7]

Manusia sesuai hakikatnya diciptakan dalam keadaan yang terbaik, termulia, tersempura di banding dengan makhluk lainnya, tetapi sekaligus memiliki hawa nafsu dan perangai atau sifat tabiat buruk. Manusia bisa bahagia hidupnya di dunia maupun akhirat, dan bisa pula sengsara atau tersiksa. Mengingat berbagai sifat seperti itu, maka diperlukan adanya upaya untuk menjaga agar manusia tetap menuju kearah bahagia, menuju ke citranya yang terbaik, kearah “ahsanitaqwim” dan tidak terjerumus ke keadaan yang hina atau ke “asfal safilin”.

ô‰s)s9 $uZø)n=y{ z`»|¡SM}$# þ’Îû Ç`|¡ômr& 5OƒÈqø)s? ÇÍÈ   ¢OèO çm»tR÷ŠyŠu‘ Ÿ@xÿó™r& tû,Î#Ïÿ»y™ ÇÎÈ   žwÎ) tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qè=ÏHxåur ÏM»ysÎ=»¢Á9$# óOßgn=sù íô_r& çŽöxî 5bqãYøÿxE ÇÏÈ

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian kami kembalikan dia ketempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya”[8]

Dari surat di atas dapat dikatakan bahwa bimbingan dan konseling Islam itu diperlukan[9]. Maka orang yang menjadi pembimbingnya di sebut dengan Konsultan Islam. Tujuan konsultan dari bimbingan dan konseling Islam ini yaitu membantu individu mewujudkan dirinya sebagai manusia seutuhnya agar mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.

Sejalan dengan Al-quran dan hadis, syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh konsultan Islam yaitu[10] :

1)      Kemampuan professional (keahlian)

Dalam membimbing sudah barang tentu haruslah merupkan orang yang memiliki kemampuan keahlian atau kemampuan professional di bidang tersebut. dengan istilah lain dikatakan yang bersangkutan merupakan seorang “alim” dibidang bimbingan dan konseling Islami. Keahlian merupakan syarat mutlak, sebab apabila yang bersangkutan tidak menguasai bidangnya, maka bimbingan  dan konseling Islami ini tidak akan mencapai sasarannya.

Secara lebih rinci kemampuan professional yang perlu dimiliki yaitu :

  1. Menguasai bidang permasalahan yang dihadapi
  2. Menguasai metode dan teknik bimbingan atau konseling
  3. Mengasai hukum Islam yang sesuai dengan bidang bimbingan dan konseling Islam
  4. Memahami landasan –landasan keilmuan bimbingan dan konseling Islam yang relevan
  5. Mampu mengorganisasikan dan mengadministrasikan layanan bimbingan dan konseling Islam
  6. Mampu menghimpun dan memanfaatkan data hasil penelitian yang berkaitan dengan bimbingan dan konseling Islam

2)      Sifat kepribadian yang baik (akhlaqul karimah)

Sifat kepribadian yang baik (akhlak yang mulia) diperlukan untuk menunjang keberhasilannya melakukan bimbingan dan konseling Islam. Sifat-sifat yang baik itu diantaranya :

  1. Siddiq (mencintai dan membenarkan kebenaran). Seorang Konsultan harus memiliki sifat siddiq, yakni cinta pada kebenran dan mengatakan benar sesuatu yang memang benar.
  2. Amanah (bisa dipercaya). Seorang Konsultan harus dapat dipercaya dalam arti yang bersangkutan mau dan mampu menjaga rahasia orang yang menjadi kliennya. “Tidak beriman orang yang tidak menunaikan amanat” (H.R. Tabrani dari Ibnu Umar)
  3. Tabligh (mau menyampaikan apa yang layak disampaikan). harus bersedia menyampaikan apa yang layak disampaikan. Kalau ia mempunyai ilmu, ia bersedia menyampaikan ilmunya tersebut kepada kliennya.
  4. Fatonah (intelejen, cerdas, berpengetahuan). Memiliki kemampuan dan kecerdasan yang memadai, termasuk sifat inovatif, kreatif, cepat tanggap mengambil keputusan.
  5. Mukhlis (ikhlas dalam menjalankan tugas). Harus ikhlas menjalankan tugasnya karena mengharapkan ridho allah (lillahi ta’ala). Dengan bahasa popular harus bersikap “sepi ing pamrih ing gawe”
  6. Sabar. Konsultan Islam harus memiliki sifat sabar, dalam arti ulet, tabah, ramah, tidak mudah putus asa, tidak mudah marah.
  7. Tawaduk (rendah hati). Harus memiliki sifat rendah hati, tidak sombong, tidak merasa paling tinggi kedudukan maupun ilmunya.
  8. Saleh (mencintai, melakukan, membina, menyokong kebaikan). harus bersifat Saleh karena kesalehannya itu akan memudahkannya melakukan tugas dengan baik.
  9. Adil. Harus bersikap adil dalam arti mampu mendukung permasalahan dank lien sesuai dengan situasi dan kondisinya secara proporsional.
  10. Mampu mengendalikan diri. Harus memiliki kemampuan kuat untuk mengendalikan diri, menjaga kehormatan diri dan kehormatan klien.

3)      Kemampuan kemasyarakatan (berukhuwah Islamiyah)

Seorang Kunsultan Islam harus memiliki kemampuan melakukan hubungan kemanusiaan atau hubungan social, ukhuwah Islamiyah yang tinggi. Hubungan social tersebut meliputi hubungan dengan:

  1. Klien, orang yang dibimbing
  2. Teman sejawat
  3. Orang lain selain yang tersebut di atas

ôMt/ΎàÑ ãNÍköŽn=tã èp©9Ïe%!$# tûøïr& $tB (#þqàÿÉ)èO žwÎ) 9@ö6pt¿2 z`ÏiB «!$# 9@ö6ymur z`ÏiB Ĩ$¨Y9$# râä!$t/ur 5=ŸÒtóÎ/ z`ÏiB «!$# ôMt/ΎàÑur ãNÍköŽn=tã èpuZs3ó¡yJø9$# 4 šÏ9ºsŒ öNßg¯Rr’Î/ (#qçR%x. tbrãàÿõ3tƒ ÏM»tƒ$t«Î/ «!$# tbqè=çGø)tƒur uä!$uŠÎ;/RF{$# ΎötóÎ/ 9d,ym 4 y7Ï9ºsŒ $yJÎ/ (#q|Átã (#qçR%x.¨r tbr߉tG÷ètƒ ÇÊÊËÈ

 Artinya : “Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh Para Nabi tanpa alasan yang benar. yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.[11]

4)      Ketakwaan pada Allah

Ketakwaan merupakan syarat dari segla syarat yang harus dimiliki, sebab ketakwaan merupakan sifat paling baik.

Selain kemampuan dan sifat-sifat yang di miliki konsultan, konsultan juga harus memiliki berbagai hal lahirian yang baik, juga kondisi mental yang baik.

$pkš‰r’¯»tƒ ãÏoO£‰ßJø9$# ÇÊÈ   óOè% ö‘É‹Rr’sù ÇËÈ   y7­/u‘ur ÷ŽÉi9s3sù ÇÌÈ   y7t/$u‹ÏOur öÎdgsÜsù ÇÍÈ   t“ô_”9$#ur öàf÷d$$sù ÇÎÈ   Ÿwur `ãYôJs? çŽÏYõ3tGó¡n@ ÇÏÈ   šÎh/tÏ9ur ÷ŽÉ9ô¹$$sù ÇÐÈ

Artinya: Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! dan Tuhanmu agungkanlah! dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.[12]

Dari surat di atas penampilan jasmaniah yang baik dari seorang konsultan haruslah “berpakaian yang bersih”. Itu berarti bahwa konsultan harus berpenampilan menarik, sopan, rapi, tertib.

Kegiatan konsultan yang dalam garis besarnya dapat disebutkan sebagai berikut[13] :

1)   Membantu individu mengetahui, mengenal dan memahami keadaan dirinya sesuai dengan hakikatnya atau memahami kembali keadaan dirinya, sebab dalam keadaan tertentu dapat terjadi individu tidak mengenal atau tidak menyadari keadaan dirinya yang sebenarnya.

2)   Membantu individu menerima keadaan dirinya sebagaimana adanya, segi-segi-segi baik buruknya, kekuatan serta kelemahannya sebagai sesuatu yang memang telah ditetapkan Allah (nasib atau takdir)

3)   Membantu individu memahami keadaan (situasi dan kondisi) yang di hadapi saat ini.

4)   Membantu individu menenumukan alternative pemecahan masalah

Menurut (Syukriadi Sambas) pesan-pesan irsyad dapat disampaikan melalui bentuk ahsanu qaulan dan ahsanu amalan, yang pertama cara penyampaian pesan irsyad dengan menggunakan bahasa yang baik dan yang kedua dengan menggunakan perbuatan yang baik. Bentuk ahsanu qaulan dan ahsanu amalan dalam menyampaikan pesan bimbingan Islam menurut Ya’qub terbagi menjadi sembilan macam, yaitu: (1) metode graduasi (al-tadaruj); (2) metode levelisasi (muraat almustawayat); (3) metode variasi (al-tanwi wa al-taghayir); (4) metode keteladanan (al-Uswah wa al-qudwah); (5) metode aplikatif (al-tathbiqi wa al-amali); (6) metode pengulangan (al-Takrir wa al-muraja’ah); (7) metode evaluasi (al-taqyim); (8) metode dialog (hiwar); dan (9) metode cerita atau kisah (al-Qishahs).[14]

  1. 3.      Warois (Perawat Rohani Islam)

Profesi keperawatan memiliki paradigm tentang holistic care dalam pemberian asuhan keperawatan dengan mempertimbangkan unsur atau variable body, mind and sprit dalam pelayanan yang diberikan.(Van Dover dan Bacon, 2006).

Asuhan keperawatan spiritual merupakan bagian dari pelayanan keperawatan yang bersifat holistic yaitu biopsikososial dan spiritual menjadi tanggung jawab petugas pelayanan kesehatan termasuk di dalamnya adalah perawat. Perawat senantiasa memngkaji masalah-masalah spiritual klien untuk kemudian diberikan intervensi sesuai dengan kebutuhan. Untuk mencapai keberhasilan sebuah asuhan perawatan spiritual, perawat perlu di bekali oleh sejumlah intervensi yang di harapkan seperti kemampuan menggali masalah. menentukan untervensi yang tepat, menerapkan konsep-konsep spiritual ke dalam tataran aplikatif bagi dirinya dan orang lain sehingga dapat menunjang pemenuhan kebutuhan spiritual klien, namun kerjasama dan koordinasi dengan rohaniawan tetap diperlukan untuk kualitas hidup yang lebih baik bagi pasien dengan kebutuhan tersebut. (Inggriene Puspita dewi, Disajikan dalam Diklat Warois se-Jawa Barat UIN Bandung 2010)

Secara umum hubungan dengan pasien dapat menempuh pendekatan-pendekatan sebagai berikut[15]:

  1. Dapatkan terlebih dahulu informasi kondisi pasien dari bagian keperawatan untuk mengtahui kondisi objektif pasien (boleh diajak bicara atau tidak, kategori penyakit, kondisi mental, dan lain-lain)
  2. Jaga kontak komunikasi awal sebagai kesan pertama dengan pasien
  3. Gunakan efek hallo melalui tutur kata yang baik, kesan simpatik, dan empati yang berasal terhadap pasien
  4. Jaga penampilan melalui pakaian, sikap, gaya bertutur kata, dan lain-lain
  5. Jika mungkin melalui bincang-bincang awal dapatkan kondisi mental dan kejiwaan pasien untuk mengukur kondisi nafs pasien, latar belakang sosio kultur, aspek religiusitas, kesulitan-kesulitan terutama dalam beribadah, dan lain-lain
  6. Mulailah intervensi dengan memasukkan nasihat, sugesti, saran dan lain-lain. melalui komunikasi terapeutik
  7. Ajukan pentingnya doa dan efek terapi doa dengan gaya bertutur yang komunikatif, informative tapi tidak mengguri atau doctrinal, bisa melalui cerita, kisah atau pendekatan lain yang relevan.
  8. Tawarkan doa khusus untk pribadi atau berdoa bersama
  9. Jika ada keluarga pasien ajak serta untuk berdialog, berdoa bahkan memohon izin dalam proses layanan.

sementara pendekatan secara khusus menempuh proses seperti di bawah ini[16]:

  1. Bertindaklah hati-hati jika terdapat pasien yang mengadukan hal-hal yang bersifat irrasional, supra-rasional, spiritual
  2. Tanggapi secara arif dan bijaksana
  3. Jika pasien meminta didoakan secara khusus, meminta car-cara khusus (seperti memohon air dan lain-lain) layani secara arif dan bijaksana. Yang harus dihindari adalah jangan sampai terjadi perang dan debat teologis sehingga mengacuhkan ketenangan pasien
  4. Jika pasien tidak suka didoakan berbagai alasan apalagi dengan cara-cara tertentu. layani secara arif dan bijal. tidak boleh memaksakan, cukup dengan nasihat dan tutur kata yang baik dari aspek agama
  5. Bersikaplah bijak dalam tata cara berdoa dan member nasihat atau bimbingan, tidak perlu dengan suara keras seperti khotbah, tidak bersikaf atraktif, tidak memaksa, dan lain-lain
  6. Lakukan pelayanan doa secara professional karena warois bukan aktivitas klinik dan perdukunan
  7.  Biasakan mendoakan pasien di rumah (di lur saat kontak person dengan pasien di rumah sakit)
  8. 4.      Mubaligh atau Da’i[17]

Etika dakwah bagi mubaligh penting paling tidak untuk :

  1. Memberi wawasan dan kesadaran tentang jati diri mubaligh
  2. Memberi rambu-rambu mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh
  3. Untuk menjaga citra diri dan akhlak

Harus disadari profesi sebagai da’I berbeda dengan profesi lainnya karena memiliki bobot nilai tersendiri, terutama dalam hubungannya dengan keajegan menjaga sikap dalam tiga hal, yaitu terhadap diri sendiri, terhadap Allah dan terhadap sesama manusia. Untuk menjaga bagaimana da’I senantiasa ada dalam tuntunan akhlak yang mulia, maka para ulama merumuskan berbagai panduan etika bagi da;I, mislanya terdapat dalam kitab: min Akhlaq al-Daiyah, Ishlah al-Wa’zh al-Din. Beberapa contoh etika dakwah:

Muhammad Mahmud Abdul Qadir (Untuk dakwah nafsiah)

  1. Seorang da’I harus melakukan amal saleh dengan melakukan segala kewajiban dan menjauhi dosa
  2. Menyatakan diri sebagai kewajiban dan menjauhi dosa
  3. Mengetahui dan memahami perbedaan sikap antara lemah lembut dengan keras, memaafkan dengan menginsyafkan, dan lain-lain
  4. Sabar, penyantun dan tabah
  5. Berhati-hati terhadap godaan setan dengan senantiasa beristi’adah
  6. Memiliki keyakinan yang kuat terhadap Allah

Abdul Badi Shaqr dalam kitab Kaifa Nad’u al-Nas (1976;26-32) untuk dakwah fardiyah dan fiah

  1. Toleran dan lemah lembut
  2. Menghargai mad’u sebagai makhluk berperasaan
  3. Meneliti dan memahami karakteristik keseluruhan keperibadian mad;u, problema psikologis dan sosiologis
  4. Mendahulukan persoalan-persoalan yang lebih penting bagi mad’u
  5. Menciptkan egalitarianism dan hindari perbedaan status
  6. Menghindari pemaksaan kehendak, subjektivitas yang membebani di luar batas kemampuan mad’u
  7. Membedakan kajian ilmiah dengan perdebatan

Karakterisik dakwah Nabi

Menurut Abdul Karim Zaydan, dalam Ushul al-Dakwah

  1. Indzar, memberika peringatan
  2. Tabsyir, menggembirakan
  3. Al-Rafiq wa al-Layn, kasih sayang dan lemah lembut
  4. Al-Taysir, memberikan kemudahan
  5. Al-Syiddah, tegas dank eras
  6. Al-Tahaddiyat, sarat tantangan dan ujian
  7. Al-Hajmu wa al-fa’alu, ofensif dan aktif

Syaikh Ali Mahfuzh, dalam hidayat al-Mursyidin

  1. Dengan hujjah yang sempurna
  2. Dengan Ushlub yang terang-terangan
  3. Didukung moral yang tinggi
  4. Lihai bersiasat

Kode etik dakwah Nabi[18]

  1. Tidak memisahkan antara ucapan dan perbuatan

Hendaknya tidak memisahkan antara apa yang ia katakan dengan apa yang ia kerjakan.

  1. Tidak melakukan toleransi agama

Toleransi memang dianjurkan tetapi hanya dalam batas-batas tertentu dan tidak menyangkut masalah agama (keyakinan)

  1. Tidak menghina sesembahan non muslim

Da’i menyampaikan ajarannya sangat dilarang untuk menghina atau mencerca agama yang lain.

  1. Tidak melakukan Diskriminasi Sosial
  2. Semua harus mendapatkan perlawanan yang sama. Karena keadilan sangatlah penting dalam dakwah Islam. Dai harus menjunjung tinggi hak universal.
  3. Tidak memungut imbalan

Memang masih terjadi perbedaan pendapat tentang dibolehkan atau dilarang namun dalam konteks kekinian jasa dalam berdakwah itu merupakan salah satu dukungan financial dalam dakwah. Dalam artian dakwah pada era sekarang dukungan financial dalam dakwah sangatlah penting. karena akan member sumberdaya sang da’i tersebut dari segi keilmuan, kesejahteraan hidup dan proses aktifitas dakwah.

  1. Tidak berteman dengan pelaku maksiat

Berkawan dengan pelaku maksiat ini di khawatirkan akan berdampak buruk atau serius. Karena beranggapan bahwa seakan-akan perbuatan maksiatnya direstui oleh dakwah. Disisi lain integritas dakwahnya berkurang.

  1. Tidak menyampaikan hal-hal yang tidak di ketahui

Da’i yang menyampaikan suatu hukum, sementara ia tidak mengetahui hukum itu, ia pasti akan menyesatkan umat.

Akhlak Da’I ialah akhlak Islam yang Allah nyatakan dalam Al-quran dan rasulullah menjelaskan dalam sunnah beliau serta para sahabatn menerapkannya dalam tingkah laku dan peri hidup mereka. Akhlak Islam yang sebaiknya dimiliki da’i diantaranya:

  1. Al-Shidq (Benar, tidak dusta)
  2. Al-Shabr (sabar, tabah)
  3. Al-Rahmah (Rasa Kasih Sayang)
  4. Tawadhu (merendahkan diri, tidak sombong)
  5. Suka bergaul

Kepribadian da’I yang punya pengaruh besar untuk diterima orang dakwahnya. Imam Muhammad Abu Zahrah, da’I wajib menghiasi diri dengan sifat berikut ini:

  1. Punya niat yang baik sehingga dalam berdakwah tidak mengharapkan imbalan harta atau kedudukan, tapi semata-mata mengharapkan kerhidoan dari Allah
  2. Berkemampuan dalam merangkan
  3. Punya kepribadian yang menarik
  4. Mengetahui kandungan dan al-Hadist
  5. Lemah lembut pergaulan tapi bukan sebagai tanda kelemahan
  6. Tidak bertindak sebagai musuh
  7. Tidak menyalahi ketentuan agama

Sifat-sifat atau karakter yang wajib dipunyai oleh da’I menurut syekh Ali Mahfudz adalah:

  1. Memahami al-quran dan al-sunnah
  2. Beramal menurut ilmunya
  3. Sopan santun dan berlapang dada
  4. Punya sifat berani. tidak gentar menghadapi seseorang dalam mengucapkan yang hak
  5. Bersifat ‘qana’ah’
  6. Berkemampuan member keterangan dan penjelasan serta kepaseha berbicara
  7. Mendalami beberapa cabang ilmu
  8. Punya hubungan kuat dengan Allah
  9. Tawadhu atau rendah hati
  10. tidak kikir dalam mengajarkan ilmu apa saja yang di pandang baik
  11. Tidak tergopoh dan terburu-buru dalam semua urusan
  12. Bercita-cita tinggi dan berjiwa besar
  13. Bersifat sabar dalam melancarkan dakwah
  14. Bertaqwa dan amanah

 

  1. C.  Penutup

Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa dalam kode etik dakwah harus memiliki sifat dan karakter dari masing-masing penyampaiannya baik itu di bidang penyuluh, konsultan Islam, warois dan mubaligh atau da’i. Dari semua itu harus mencerminkan pribadi yang baik dan berakhlakul karimah.

Dalam Penyampaian materi atau metode yang digunakan berbeda-beda sesuai dengan ranah dari masing-masing bidang. Setiap bidang atau profesi mempunyai kemampuan atau skill yang berbeda pula seperti penyuluh atau konsultan dengan warois berbeda teknik dan metode dalam penyampaian bimbingan terhadap klien atau pasien.

Namun dari semua itu tidak terlepas dari bagaimana cara beretika dengan baik, memahami situasi dan kondisinya.Terutama dalam berprilaku harus benar-benar menunjukkan prilaku yang sopan santun pada klien atau pasien. Dengan begitu seorang penyuluh, konsultan, dai ataupun warois dapat di segani oleh klien atau pasien.

Karena berbicara tentang etika berarti berbicara mengenai apa yang baik dan apa yang buruk, serta membedakan prilaku atau sikap yang dapat diterima dengan yang ditolak guna mencapai kebaikan dalam kehidupan. Etik menyangkut nilai-nilai sosial budaya yang telah disepakati bersama. Jadi pada dasarnya etika itu sifatnya tidak mutlak, karena antara masyarakat satu dengan masyarakat lainnya memiliki norma-norma atau aturan dan kode etik yang berbeda.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

AS, Enjang dan Aliyudin.2009. Dasar-dasar Ilmu Dakwah. Bandung: Widya Padjajaran.

 

AS, Enjang dan Hajir. 2009. Etika Dakwah. Bandung: Widya Padjajaran.

 

Arifin, Isep Zaenal.2009. Bimbingan Penyuluhan Islam (Pengembangan dakwah Melalui Psikoterapi Islam). Jakarta. Grapindo Persada.

 

Dewi, Inggriane Puspita. 2010. Aplikasi Asuhan Keperawatan Spiritual Muslim di RS. Disajikan dalam Diklat Warois se-Jawa Barat UIN Bandung.

 

Faqih, Aunur Rahim. 2001. Bimbingan Dan Konseling Dalam Islam. Yogyakarta: UII Press.

 

http://arrahmah.org/index.j?m=Artikel.Lengkap&id=1

 

http://rizqisme.wordpress.com/2011/09/02/kode-etik-penyuluh-pembimbing-dan-konsultan-islam-2/

 

Kusnawan, Aep dkk. 2009. Dimensi Ilmu Dakwah. Bandung: Widya Padjajaran.

 

Romly,H.A.M. 2003. Buku Panduan Pelaksanaan Tugas Penyuluh Agama Utama. Jakarta. Departemen Agama RI.

 

 

 

 

 

 


[1] Kusnawan, dkk. 2009: 2

[2] K. Bertens,1993: 4

[3] Di Unduh pada tanggal 3 Oktober 2011.Jam 10.15.http://arrahmah.org/index.j?m=Artikel.Lengkap&id=1 oleh Abbas M Basalamah

[4] Q.S Al Ahzab ayat 21

[5] H,A.M.Romly,2003:10-12

[7] Nurihsan,2007:16

[8] Q.S At-Tin:4-6

[9] Faqih,200: 12

[10] Ibid., hal: 46-53

[11] Q.S Al-Imran: 112

[12] Q.S Al-Muddatstsir: 1-7

[13]  Faqih,2001: 37-41

[15] Arifin, 2009:63-64

[16] Ibid.,64

[17] Arifin, 2009: 259-267

[18] Enjang dan Tajiri,2009:136-142

By ulfianti

5 comments on “Etika Dakwah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s