Sejarah Terapi Ikan di Indonesia

Sejarah terapi Ikan di Indonesia
Konon kabarnya kerajaan-kerajaan di Priangan Timur Jawa-Barat, seperti Kerajaan Galuh, dan Sukapura dengan wilayahnya sekitar Ciamis, Tasikmalaya dan Garut, begitu juga dikalangan keraton kawasan Cirebon dan sekitarnya, termasuk Kuningan telah lama mengenal Terapi Ikan. Para menak dan kaum ningratnya telah terbiasa merendan diri di kolam-kolam taman yang berada di Keraton sambil Terapi Ikan Nilem demi untuk memelihara kebugaran badan mereka. Salah satu bukti orang sunda sangat familier dengan ikan nilem yang bisa melakukan terapi, yakni dengan istilah “Gerenyem Nilem“. Gerenyem mengandung arti mulutnya yang tidak henti-hentinya selalu bergerak-gerak, menyedot-nyedot apa saja, termasuk nyedot-nyedot bagian tubuh kita yang kebetulan berada dilingkungan ikan nilem tersebut. Prilaku ikan yang demikian merupakan identitas dari instingnya ikan Nilem. Sayangnya kita sempat melupakannya, baru sadar kembali setelah arus Terapi Ikan menjamur dikota-kota besar yang jenis ikannya berasal dari luar Negeri, yakni dari Turki. Beberapa tempat yang telah berani menggunakan ikan asli alam Indonesia (Native Species) diantaranya adalah di Taman Wisata Matahari, Supermall Sukabumi dan di Kabupatem Kuningan, Jawa Barat.
Masih di Indonesia, yakni di Sulawesi Tenggara, tepatnya di Pulau Wowuni ada tradisi turun-menurun berupa terapi ikan di sungai-sungai. Terapi dilakukan oleh jenis ikan Payau di sungai-sungai yang masih ada pengaruh air asin, yakni jenis ikannya adalah ikan kutil (Meiacanthus anema) dari suku Blenniidae. Ikan ini banyak dikenal di Pulau Wowuni, Sulawesi Tenggara, orang lokal kalau mau menghilangkan kutil cukup merendam di sungai yang ada ikan ini, maka kutilnya akan hilang diambil oleh ikan tersebut, begitu juga dengan masalah penebalan kulit dan pecah-pecah kulit dikaki bisa tuntas hilang oleh ikan ini, kulit kaki akan menjafi halus, namun jenis ini tidak bisa untuk memijit seperti nilem, karena mulutnya bergigi, manfaatnya hanya khusus untuk menghilangkan jaringan mati seperti kutil, sasanggaleun (penebalan kulit/bhs sunda), rorombeheum (pecah2 kulit dikaki/bhs sunda) dan daging jadi lainnya. Habitatnya berupa air payau (estuarin) di mulut-mulut sungai bagian hilir, dan dapat teradaptasi dengan air tawar. Ikan ini memiliki pola warna yang indah, di badannya terdapat 3 garis horizontal berwarna hitam dengan badan dan sirip berwarna kebiruan. Ukuran ikannya kecil-kecil paling besar berukuran 3 inci.
Sementara Garra rufa (Introduce Species) asal Turki masuk ke Indonesia baru sekitar tahun 2.000. Di Turki sendiri penduduknya sampai saat ini telah membudaya untuk memelihara kebugaran tubuhnya biasa melakukan Terapi Ikan, dan telah lama berkembang. Garra rufa telah dikenal ratusan tahun oleh masyarakat Turki sebagai ikan yang dapat mengobati penyakit kulit yang hidup di sumber air hangat daerah Kangal. Sumber air hangat Kangal pertama kali diketahui pada tahun 1800, saat seorang pengembala yang terluka kakinya sering berendam di kolam air hangat itu dan ternyata lukanya berangsur sembuh. Sejak saat itu, kesembuhannya mendapat perhatian masyarakat dan pada tahun 1950 oleh pemerintah administrasi Sivas di Turki membangun beberapa kolam dan fasilitas pendukung lainnya di daerah tersebut. Salah satu kolam Kangal terdapat ikan-ikan kecil yang hidup pada kondisi suhu air 36-37 derajat celcius. Jenis ikan terapi dari luar Indonesia ini tentu saja tidak pas betul dengan alam perairan Indonesia, maklum namanya juga ikan pendatang, lebih-lebih ikan ini aslinya berasal dari perairan payau (estuarin) yang airnya asin dan bersuhu tinggi itu dipaksakan menjadi penghini air tawar yang ada di Indonesia yang kualitas airnya sangat berbeda, mangkanya jangan heran kalau ikan ini moratlitasnya relatif tinggi selama ada diperairan di Indonesia, yang pada gilirannya berdampak cost oprasionalnya menjadi relatif tinggi akibat mortalitas tinggi tersebut, karena harus terus-menerus diperbaharui dengan ikan baru sebagai pengganti ikan yang mati.
Di Indonesia Terapi Ikan akhir-akhir ini semakin berkembang. Pembukaan wahana Usaha Terapi Ikan banyak diselenggarakan, diantaranya peresmian Terapi Ikan Kesehatan di kawasan Puncak, Bogor, telah dibuka dengan ditandai pemukulan Gong oleh Owner Taman Wisata Matahari pada tgl 7 Juni 2010, menyusul setelah itu telah dibuka pula Terapi Ikan Kesehatan di Super Mall Sukabumi 2 Mei 2011 dan akan menyusul di kota-kota lainnya, bedanya di Taman Wisata Matahari bertempat di kolam (outdoor), sedangkan di Super Mall menggunakan akuaium-akuarium berukuran besar (indoor), namun tetap bernuansakan alami membuat nyaman pengguna terapi. Mari kita berekreasi sambil melihara kesehatan dan bergembira disaat melakukannya, dijamin bisa riang-gembira.

By ulfianti

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s