MASALAH-MASALAH PATOLOGI SOSIAL

MASALAH-MASALAH PATOLOGI SOSIAL
Oleh D. Ulfianti
A. Pendahuluan
Istilah patologi sosial berasal dari kata pathos. Pendeitaan, penyakit. Dan logos artinya ilmu, atau ilmu tentang penyakit. Patologi sosial adalah ilmu tentang gejala-gejala sosial yang dianggap “sakit”, disebabkan oleh faktor-faktor sosial. Patologi sosial adalah ilmu tentang penyakit masyarakat yaitu tingkah laku umum dan adat istiadat, aatu tidak terintegrasi dengan tingkah laku tidak biasa.
Kemajuan sains dan teknologi, mekanisme, industrialisme dan urbanisasi telah memunculkan banyak maslah sosial pada masyarakat modern. Gejala-gejala seperti keseimbangan, kebingungan, kecemasan, dan konflik-konflik baik eksternal semakin nampak menjadi pemandangan keseharian. Dampak dari kondisi tersebut memunculkan stimuli orang untuk melakukan tingkah laku menyimpang dari norma-norma umum.
Banyak pribadi yang mengalami gangguan jiwa, dan muncul konflik antar budaya yang ditandai dengan keresahan sosial, pertikaian serta ketidakrukunan kelompok-kelompok sosial disertai prilaku melanggar norma-norma hukum formal.
Situasi sosial sedemikian ini dapat menimbulkan prilaku patologi sosial atau sosiopatik yang menyimpang dari pola umum. Dalam keadaan seperti ini orang-orang hanya mentaati norma dan peraturannya sendiri. Mereka terbiasa dengan prilaku senang mengeksploitasi orang lain, merampas dan memeras hak-hak orang lain. Akibatnya banyak muncul masalah sosial seperti sosiopatik, deviasi sosial, disorganisasi sosial, disintegrasi sosial dan diferensi sosial apabila tingkah laku menyimpang (deviasi) seperti merajalela korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), maraknya kriminalitas (pencurian, penodongan dan pembunuhan), deviasi seksual, dan seterusnya.
B. Pembahasan
1. Masalah Prostitusi
Pelacuran berasal dari bahasa Latin pro-stituere, yang berarti membiarkan diri berbuat zina. Sedang prostitue adalah pelacur dikenal pula dengan istilah WTS atau wanita tunasusila. Maka pelacur itu adalah wanita yang tidak pantas kelakuannya dan bisa mendatangkan penyakit, baik kepada orang lain yang bergaul dengan dirinya, maupun kepada diri sendiri .
Pelacuran atau prostitusi adalah penjualan jasa seksual, seperti seks oral atau hubungan seks, untuk uang. Seseorang yang menjual jasa seksual disebut pelacur, yang kini sering disebut dengan istilah pekerja seks komersial (PSK).
Dalam pengertian yang lebih luas, seseorang yang menjual jasanya untuk hal yang dianggap tak berharga juga disebut melacurkan dirinya sendiri, misalnya seorang musisi yang bertalenta tinggi namun lebih banyak memainkan lagu-lagu komersil.
 Pengertian prostitusi menurut pendapat para sarjana lain :
Soedjono
Prostitusi yaitu sebagai prilaku yang terang-terangan menyerahkan diri pada perzinahan atau dengan kata lain pelacuran itu berarti penyerahan diri secara badaniah seorang wanita untuk pemuasan laki-laki yang menginginkannya, dengan pembayaran.
Mr.W.A.Bonger
Prostitusi yaitu gejala sosial dimna wanita menyediakan dirinya untuk perbuatan seksual sebagai mata pencahariannya
Paul Medika Moelyono
Prostitusi yaitu penjualan badan wanita dengan menerima bayaran kepada orang banyak, guna pemeras nafsu seksual orang-orang itu.

Pelacur adalah profesi yang menjual jasa untuk memuaskan kebutuhan seksual pelanggan. Biasanya pelayanan ini dalam bentuk pelayanan seks. Istilah pelacur sering diperhalus dengan pekerja seks komersial, wanita tunasusila, istilah lain yang juga mengacu kepada layanan seks komersial.

 Jenis-Jenis prostitusi
Jenis prostitusi menurut aktivitasnya yaitu :
a. Prostitusi yang terdaftar.
Pada umumnya mereka dilokalisasi dalam satu daerah tertentu. Penghuninya secara periodik harus memeriksakan diri pada dokter atau petugas kesehatan dan mendapatkan suntikan serta pengobatan, sebagai tindakan kesehatan dan keamanan umum. Pelakunya diawasi oleh kepolisian yang bekerja sama dengan Jawatan Sosial dan Jawatan Kesehatan . Namun kenyataannya cara ini tidaklah efisien karena kenyataannya tidak adanya kerja sama antara pelacur dengan petugas kesehatan.
b. Prostitusi yang tidak terdaftar
Mereka yang melakukan prostitusi secara gelap-gelapan dan liar, baik secara perorangan maupun dalam kelompok. Perbuatannya tidak terorganisasi dan tempatnyapun tidak tertentu, sehingga kesehatannya sangat diragukan.

Jenis prostitusi menurut jumlahnya yaitu :
a. Prostitusi yang beroperasi secara individual.
Merupakan single operator sering disebut dengan pelacur jalanan. Mereka biasanya mangkal di pinggir jalan, stasiun maupun tempat-tempat aman lainnya. Para pelacur ini menjalankan profesinya dengan terselubung.
b. Prostitusi yang bekerja dengan bantuan organisasi dan sindikat yang teratur rapi.
Jadi, mereka tidak bekerja sendirian melainkan diatur melalui satu sistem kerja suatu organisasi. Biasanya dalam bentuk rumah bordir, bar atau casino.

Jenis prostitusi menurut tempat penggolongan atau lokalisasinya yaitu:
a. Segregasi atau lokalisasi, yang terisolasi atau terpisah dari kompleks penduduk lainnya.
Seperti lokalisasi Silir di Solo dan Gang Dolly di Surabaya. Meskipun lokalisasi ini sudah tidak ada namun para pelacur masih beroperasi yaitu di pinggir jalan, malam dan mereka merupakan pelacur kelas bawah yang bekerja sama dengan sopir becak dan para pedagang.
b. Rumah-rumah panggilan
Rumah-rumah panggilan ini memiliki ciri khusus dimana hanya pihak yang terkait saja yang mengetahuinya. Selain itu kegiatannyapun lebih terorganisir dan tertutup.
c. Dibalik front organisasi
Bisnis-bisnis terhormat (salon kecantikan, tempat pijat, rumah makan, warnet, warung remang-remang, dll). Disini sudah memiliki jaringan yang baik dan terorganisir. Tidak sedikit yang melibatkan orang-orang terhormat maupun pihak keamanan yaitu polisi.
Di Indonesia pelacur sebagai pelaku pelacuran sering disebut sebagai sundal atau sundel. Ini menunjukkan bahwa prilaku perempuan sundal itu sangat begitu buruk hina dan menjadi musuh masyarakat, mereka kerap digunduli bila tertangkap aparat penegak ketertiban, Mereka juga digusur karena dianggap melecehkan kesucian agama dan mereka juga diseret ke pengadilan karena melanggar hukum. Pekerjaan melacur atau nyundal sudah dikenal di masyarakat sejak berabad lampau ini terbukti dengan banyaknya catatan tercecer seputar mereka dari masa kemasa. Resiko yang dipaparkan pelacuran antara lain adalah keresahan masyarakat dan penyebaran Penyakit Menular Seksual, seperti AIDS yang merupakan resiko umum seks bebas tanpa pengaman seperti kondom.
Di kalangan masyarakat Indonesia, pelacuran dipandang negatif, dan mereka yang menyewakan atau menjual tubuhnya sering dianggap sebagai sampah masyarakat.
Ada pula pihak yang menganggap pelacuran sebagai sesuatu yang buruk, malah jahat, namun toh dibutuhkan (evil necessity). Pandangan ini didasarkan pada anggapan bahwa kehadiran pelacuran bisa menyalurkan nafsu seksual pihak yang membutuhkannya (biasanya kaum laki-laki); tanpa penyaluran itu, dikhawatirkan para pelanggannya justru akan menyerang dan memperkosa kaum perempuan baik-baik. Salah seorang yang mengemukakan pandangan seperti itu adalah Augustinus dari Hippo (354-430), seorang bapak gereja. Ia mengatakan bahwa pelacuran itu ibarat “selokan yang menyalurkan air yang busuk dari kota demi menjaga kesehatan warga kotanya.” Pandangan yang negatif terhadap pelacur seringkali didasarkan pada standar ganda, karena umumnya para pelanggannya tidak dikenai stigmademikian.
Masalah pelacuran merupakan salah satu bentuk penyakit masyarakat, yang harus dihentikan penyebarannya, tanpa m,engabaikan usaha pencegahan dan perbaikannya. Di berbagai negara pelacuran dilarang, bahkan dikenakan hukuman. Juga di anggap sebagai perbuatan hina oleh segenap anggota masyarakat. Akan tetapi sejak adanya manusia yang pertama hingga dunia akan kiamata nanti. “masa pencaharian” pelacuran ini akan tetap ada, bahkan sulit diberantas dari muka bumi. Selama masih ada nafsu-nafsu seks yang lepas dari kendali kemauan dan hati nurani. Maka timbulah masalah pelacuran sebagai gejala patologis.
 Permasalahan menurut pandangan Islam dan sudut pandang dakwah
Pelacuran dalam Agama Islam juga disebut dengan zina, zina termasuk perbuatan dosa besar. Hal ini dapat dilihat dari urutan penyebutannya setelah dosa musyrik dan membunuh tanpa alasan yang haq(benar), Allah berfirman:
     •    •              
“dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya Dia mendapat (pembalasan) dosa(nya),” (QS. Al-Furqaan: 68).
Imam Al-Qurthubi mengomentari, “Ayat ini menunjukkan bahwa tidak ada dosa yang lebih besar setelah kufur selain membunuh tanpa alasan yang dibenarkan dan zina.” Dan menurut Imam Ahmad, perbuatan dosa besar setelah membunuh adalah zina.
Islam melarang dengan tegas perbuatan zina karena perbuatan tersebut adalah kotor dan keji. Allah berfirman:
         
“dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32).
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, seorang ulama besar Arab Saudi, berkomentar: “Allah Swt telah mengategorikan zina sebagai perbuatan keji dan kotor. Artinya, zina dianggap keji menurut syara’, akal dan fitrah karena merupakan pelanggaran terhadap hak Allah, hak istri, hak keluarganya atau suaminya, merusak kesucian pernikahan, mengacaukan garis keturunan, dan melanggar tatanan lainnya”.
Oleh karena itu, Islam telah menetapkan hukuman yang tegas bagi pelaku zina dengan hukuman cambuk seratus kali bagi yang belum nikah dan hukuman rajam sampai mati bagi orang yang menikah. Di samping hukuman fisik tersebut, hukuman moral atau sosial juga diberikan bagi mereka yaitu berupa diumumkannya aibnya, diasingkan (taghrib), tidak boleh dinikahi dan ditolak persaksiannya.
Hukuman ini sebenarnya lebih bersifat preventif (pencegahan) dan pelajaran berharga bagi orang lain. Hal ini mengingat dampak zina yang sangat berbahaya bagi kehidupan manusia, baik dalam konteks tatanan kehidupan individu, keluarga (nasab) maupun masyarakat.
 Hadis-hadis yang berkaitan dengan Pelacuran

Hadits 1
لا يحل دم امرئ مسلم ، يشهد أن لا إله إلا الله وأني رسول الله ، إلا بإحدى ثلاث : النفس بالنفس ، والثيب الزاني ، والمفارق لدينه التارك للجماعة
“Seorang muslim yang bersyahadat tidak halal dibunuh, kecuali tiga jenis orang: ‘Pembunuh, orang yang sudah menikah lalu berzina, dan orang yang keluar dari Islam‘”
Catatan: Para ulama menjelaskan bahwa hak membunuh tiga jenis orang di sini tidak terdapat pada semua orang.
Hadits 2
إن من أشراط الساعة : أن يرفع العلم ويثبت الجهل ، ويشرب الخمر ، ويظهر الزنا
“Tanda-tanda datangnya kiamat diantaranya: Ilmu agama mulai hilang, dan kebodohan terhadap agama merajalela, banyak orang minum khamr, dan banyak orang yang berzina terang-terangan”.
 Pasal-pasal yang berkaitan dengan Prostitusi atau Pelacuran
 KUHP Pasal 506
Barang siapa menarik keuntungan dari perbuatan cabul seorang wanita dan menjadikan mata pencaharian, diancam dengan kurungan paling lama satu tahun.
 KUHP Pasal 297
Perdagangan wanita dan perdagangan anak laki-laki: yang belum cukup umur, diancam dengan pidana penjara paling lama 6 bulan.
 Solusi/ Problem solving
Dalam menanggulangi masalah prostitusi ini sangatlah sukar dan harus melalui proses dan waktu yang panjang, dan memerlukan pembiayaan yang besar. Usaha untuk mengatasi masalah prostitusi ini dapat dibagi menjadi dua, yaitu :
a. Usaha yang bersifat preventif
Usaha yang bersifat preventif diwujudkan dalam kegiatan-kegiatan untuk mencegah terjadinya pelacuran. Usaha ini antara lain berupa :
1) Penyempurnaan perundang-undangan mengenai larangan atau pengaturan penyelenggaraan pelacuran.
2) Pemberian pendidikan keagamaan dan kerohanian, untuk memperkuat keimanan terhadap nilai-nilai religius dan norma kesusilaan
3) Memperluas lapangan kerja bagi kaum wanita, diseseuaikan dengan kodrat dan bakatnya, serta mendapatkan upah/gaji yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup setiap harinya.
4) Penyelenggaraan pendidikan seks dan pemahaman nilai perkawinan dalam kehidupan keluarga
5) Penyitaan terhadap buku-buku dan majalah-majalah cabul, gambar-gambar porno, film-film biru dan sarana-sarana lain yang merangsang nafsu seks.
6) Meningkatkan kesejahteraan rakyat pada umumnya
b. Tindakan yang bersifat represif dan kuratif
Usaha yang represif dan kuratif dimaksudkan sebagai kegiatan untuk menekan dan usaha menyembuhkan para wanita dari ketunasusilaannya untuk kemudian membawa mereka ke jalan yang benar. Usaha tersebut antara lain berupa :
1) Melalui lokalisasi, dengan lokalisasi masyarakat dapat melakukan pengawasan atau kontrol yang ketat. Karena lokalisasi sendiri pada umumnya di daerah terpencil yang jauh dari keramaian.
2) Untuk mengurangi pelacuran, diusahakan melalui aktivitas rehabilitasi dan resosialisasi, agar mereka bisa dikembalikan sebagai warga masyarakat yang susila. Rehabilitasi dan resosialisasi ini dilakukan melalui: pendidikan moral dan agama, latihan–latihan kerja dan pendidikan keterampilan agara mereka bersifat kreatif dan produktif.
3) Penyempunaan tempat-tempat penampungan bagi para wanita tunasusila yang terkena razia; disertai pembinaan yang sesuai dengan bakat dan minat masing-masing.
4) Menyediakan lapangan kerja baru bagi mereka yang bersedia meninggalkan profesi pelacuran dan mau memulai hidup susila.

2. Masalah Kriminalitas
Kriminalitas berasal dari kata “crimen” yang berarti kejahatan. Berbagai sarjana telah berusaha memberikan pengertian kejahatan secara yuridis berarti segala tingkah laku manusia yang dapat dipidana ,yang diatur dalam hukum pidana. Kriminalitas berasal dari bahasa inggris: Criminal yang berarti jahat, penjahat, berhubungan dengan tindak kejahatan dan segala bentuk perbuatan yang melanggar dan dapat dihukum dengan KUHP (Kitab Undang-Undang Pidana). Kriminalitas adalah perbuatan kejahatan pidana. Dalam bahasa arab disebut dengan Jinayah.
Hal yang sama pernah dilakukan pula oleh para ahli hukum dalam mencari arti hukum sebagaimana dikemukakan oleh Immanuel Kant : “noch suchen die yuristen eine definition zu ihrem begriffe von recht”. (L.j Van Apeldoorn,Pengantar Ilmu Hukum,Pradnya Paramita,Jakarta,1981,hlm.13)

Berikut pengertian kejahatan dipandang dalam berbagai segi:
Secara yuridis, kejahatan berarti segala tingkah laku manusia yang dapat dipidana,yang diatur dalam hokum pidana.
Dari segi kriminologi,setiap tindakan Dari segi kriminologi setiap tindakan atau perbuatan tertentu yang tindakan disetujui oleh masyarakat diartikan sebagai kejahatan. Ini berarti setiap kejahatan tidak harus dirumuskan terlebih dahulu dalam suatu peraturan hukum pidana. Jadi setiap perbuatan yang anti social,merugikan serta menjengkelkan masyarakat, secara kriminologi dapat dikatakan sebagai kejahatan
Kriminalitas atau kejahatan bisa dilakukan oleh berbagai lapisan masyarakat, baik masyarakat rendah maupun masyarakat yang status sosialnya tinggi. Dan juga bisa dilakukan oleh individu, kelompok dan lembaga yang memanfaatkan agar mendapatkan keuntungan.
Seperti halnya kekerasan di kota Bandung sering terjadi baik siang maupun malam hari. Aksi gerombolan geng motor itu terjadi pada Kamis (15/11/2007) tengah malam. Dalam laporannya kepada polisi, Jumat, Adi Samsul Hadi (19) mengungkapkan, dirinya menjadi korban perampokan oleh geng motor ketika tengah menunggu taksi di Jalan Lembong, Bandung. Selain dianiaya, warga Jalan Arjuna Nomor 3 RT 01/08 Cicendo, Bandung, itu juga harus kehilangan sebuah telepon genggam Nokia seharga Rp 2 juta dan sejumlah uang tunai. Akibat penganiayaan itu, korban menderita luka serius pada bagian muka dan lengannya karena berupaya menangkis serangan senjata tajam yang dilancarkan sekitar enam orang pelaku itu. “Waktu itu saya sendirian, tengah menunggu taksi, tiba-tiba muncul serombongan pengendara sepeda motor mendekat ke tempat saya. Tanpa diduga mereka menyerang dan saat saya tidak berdaya mereka merampas dompet serta HP saya,” katanya kepada petugas.
Kriminalitas atau kejahatan bukan merupakan peristiwa hederitas (bawaan sejak lahir, warisan) juga bukan merupakan warisan biologis. Tingkah laku kriminalitas bisa dilakukan oleh siapapun juga, baik pria maupun wanita.
Secara yuridis formal, kejahatan adalah bentuk tingkah laku yang bertentangan dengan moral kemanusiaan (immoral), merugikan masyarakat, asosiasi sifatnya dan melanggar hukum serta undang-undang pidana.
 Bentuk/ Jenis Tindakan Kriminalitas
a. Pembunuhan
b. Pemerkosaan
c. Perampokan/ Pencurian
d. Penipuan
e. Pengrusakan
f. Tawuran

 Permasalahan menurut pandangan Islam dan sudut pandang dakwah
Saat Islam memandang bahwa Allah adalah Sumber wujud segala sesuatu, Pemilik rahmat dan hikmah yang tak terbatas, ia tak merusak keyakinan pada kehendak-Nya yang menyeluruh dan kekuasaan-Nya yang tidak terkalahkan. Segala sesuatu bersandar pada-Nya, bahkan kemampuan setan untuk menyesatkan.
Dalam Islam, masalah kejahatan bias diselesaikan dengan cara lain. Yakni, sekalipun mengakui adanya kebaikan dan kejahatan di alam, Islam memberikan pandangan yang lebih luas sehingga sistem wujud itu sendiri terbebaskan dari segala kejahatan. Maka, dalam pandangan Islam, semua maujud itu baik dan sistem yang berlaku adalah sistem terbaik, bahkan mustahil ada sistem yang lebih baik daripadanya.
Tatanan hidup yang digariskan Islam sesungguhnya mampu mencegah terjadinya tindak kriminalitas yang dari waktu ke waktu. semakin meningkat baik dari segi kuantitas, kualitas maupun kompleksitasnya. Peningkatan kriminalitas menunjukkan kondisi yang sangat memprihatinkan, bahkan bentuknya sudah berada di luar batas kemanusiaan dan akal sehat.
Dalam kondisi yang demikian, Islam sebagai sistem kehidupan yang komprehensif mampu menyelesaikan masalah kriminalitas ini dengan langkah-langkah preventif yang cukup efektif. Langkah preventif tersebut adalah meningkatkan pemahaman ajaran agama yang telah melarang setiap individu untuk melakukan tindakan maksiat. dalam ajaran agama Islam, jangankan melakukan kejahatan, mendekati pun sudah diharamkan. Ajaran ini, menurutnya, jika tertanam dengan kuat dalam diri setiap individu, maka seorang Muslim tidak akan melakukan tindak kejahatan dalam bentuk apa pun.
Islam menganggap bahwa kejahatan adalah perbuatan-perbuatan tercela (al-qabih). Sedangkan yang dimaksud dengan tercela (al-qabih) adalah perbuatan-perbuatan yang Allah cela. Itu sebabnya, suatu perbuatan tidak dianggap jahat kecuali jika ditetapkan oleh syara’ bahwa perbuatan tersebut tercela. Ketika syara’ telah menetapkan bahwa perbuatan itu tercela, maka sudah pasti perbuatan tersebut disebut kejahatan, tanpa melihat lagi apakah tingkat dan jenis kejahatan tersebut besar ataupun kecil. Syara’ telah menetapkan perbuatan tercela sebagai dosa (dzunub) yang harus dikenai sanksi. Jadi, dosa itu substansinya adalah kejahatan.
Kejahatan sendiri bukan berasal dari fitrah manusia. Kejahatan bukan pula semacam “profesi” yang diusahakan oleh manusia. Kejahatan bukan juga ‘penyakit’ yang menimpa manusia. Kejahatan (jarimah) adalah tindakan melanggar aturan yang mengatur perbuatan-perbuatan manusia dalam hubungannya dengan Rabbnya, dengan dirinya sendiri, dan hubungannya dengan manusia lain. Allah Swt telah menciptakan manusia lengkap dengan potensi kehidupannya, yaitu meliputi naluri-naluri dan kebutuhan jasmani. Naluri-naluri dan kebutuhan jasmani adalah potensi hidup manusia yang mampu mendorong manusia untuk melakukan pemenuhan terhadap potensi hidupnya. Manusia yang mengerjakan suatu perbuatan yang muncul dari potensi hidup tadi, adalah dalam rangka mendapatkan pemenuhan terhadap potensi hidupnya.
Meskipun demikian membiarkan pemenuhan itu tanpa aturan, akan menghantarkan kepada kekacauan dan kegoncangan. Juga akan menghantarkan kepada pemenuhan naluri maupun kebutuhan jasmani yang salah, atau pemenuhan yang tercela. Oleh karena itu, ketika Allah Swt. mengatur perbuatan-perbuatan manusia, Allah juga telah mengatur pemenuhan terhadap naluri-naluri dan kebutuhan jasmani harus diatur dan sesuai dengan hukum. Syari’at Islam telah menjelaskan kepada manusia, hukum atas setiap peristiwa yang terjadi. Itu sebabnya Allah Swt. mensyari’atkan halal dan haram. Syara’ mengandung perintah dan larangan-Nya, dan Allah Swt. meminta manusia untuk berbuat sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah Swt. dan menjauhi apa yang dilarang-Nya. Jika menyalahi hal tersebut, maka manusia telah melakukan perbuatan tercela, yakni melakukan kejahatan. Oleh karena itu, orang-orang yang berdosa harus dikenai sanksi (‘iqab). Dengan demikian, manusia dituntut untuk mengerjakan apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Perintah dan larangan tersebut tidak akan berarti sama sekali jika tidak ada sanksi bagi orang yang melanggarnya. Syari’at Islam menjelaskan bahwa bagi pelanggar akan dikenai sanksi di akhirat dan di dunia. Allah Swt. akan memberi sanksi di akhirat bagi pelanggar, dan Allah juga akan mengadzabnya kelak di hari kiamat. Firman Allah Swt:
           
“Beginilah (keadaan mereka). dan Sesungguhnya bagi orang-orang yang durhaka benar-benar (disediakan) tempat kembali yang buruk, (yaitu) neraka Jahannam, yang mereka masuk ke dalamnya; Maka Amat buruklah Jahannam itu sebagai tempat tinggal.” (Q.S. Shaad:55-56)

             
“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya.Dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula.” (Q.S. Al-Zalzalah:7-8)
Diriwayatkan oleh Bukhari dari ‘Ubadah bin Shamit ra berkata:

«كُنَّا عِنْدَ النَّبِيِّ  فِي مَجْلِسِ فَقَالَ: بَايَعُوْنِي عَلَى أَنْ لاَ تُشْرِكُوْا بِاللهِ شَيْئاً، وَلاَ تَسْرُقُوْا وَلاَ تَزْنُوْا، وَقَرَأَ هَذِهِ اْلآيَةِ كُلُّهَا، فَمَنْ وَفَّى مِنْكُمْ فَأَجْرُهُ عَلَى اللهِ، وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئاً فَعُوْقِبُ بِهِ فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَهُ، وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَسَتَرَهُ اللهُ عَلَيْهِ إِنْ شَاءَ غُفِرَلَهُ، وَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ»

“Kami bersama Rasulullah saw dalam suatu majelis dan beliau bersabda, “Kalian telah membai’atku untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, tidak mencuri, tidak berzina, kemudian beliau membaca keseluruhan ayat tersebut. “Barangsiapa diantara kalian memenuhinya, maka pahalanya di sisi Allah, dan barangsiapa mendapatkan dari hal itu sesuatu maka sanksinya adalah kifarat (denda) baginya, dan barangsiapa mendapatkan dari hal itu sesuatu, maka Allah akan menutupinya, mungkin mengampuni atau mengadzab.”
Hadits ini menjelaskan bahwa sanksi dunia diperuntukkan untuk dosa tertentu, yakni sanksi yang dijatuhkan negara bagi pelaku dosa, dan ini akan menggugurkan sanksi akhirat.
Dengan demikian, tidak ada satu sistem hukum-pun di dunia ini yang serupa sebagaimana sistem hukum Islam. Sistem hukum Islam berfungsi sebagai pencegah (zawajir) atas tindak kriminalitas sekaligus sebagai penebus (jawabir) atas tindakan jahat yang telah dilakukan oleh si pelaku.
Hal yang sama ditunjukkan oleh sikap Rasulullah saw yang tetap menjatuhkan hukum potong tangan terhadap salah seorang wanita bangsawan yang kedapatan mencuri, meskipun Usamah bin Zaid (sahabat kesayangan beliau) meminta untuk tidak menjatuhkan sanksi tersebut. Lalu Rasulullah saw bersabda:

»إِنَّماَ هَلَكَ مَنْ كاَنَ قَبْلَكُمْ بِأَنَّهُمْ كَانُوْا إِذاَ سَرَقَ فِيْهِمُ الشَّرِيْفُ تَرَكُوْهُ، وَإِذاَ سَرَقَ فِيْهِمُ الضَّعِيْفُ قَطَعُوْهُ«

‘Kehancuran orang-orang sebelum kalian (diakibatkan) karena jika pembesar-pembesar mereka mencuri, mereka biarkan. Namun jika orang yang lemah mencuri, mereka memotong (tangan)-nya.’
 Pasal-pasal yang berkaitan dengan tindakan Kriminalitas
 pasal 362 KHUP yaitu: “Barang siapa mengambil suatu benda yang seluruhnya atau sebagian milik orang lain, dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum, diancam karena pencurian, dengan pidana penjara paling lama 5 tahun atau denda paling banyak sembilan ratus rupiah”.
 Pasal 365 KUHP
1) Diancam dengan pidana paling lama sembilan tahun pencurian yang didahului, disertai atau diikuti dengan kekerasan atau ancaman kekerasan
terhadap orang dengan maksud untuk mempersiapkan atau mempermudah pencurian itu, atau bila tertangkap tangan, untuk memungkinkan diri sendiri atau peserta lainnya untuk melarikan diri, atau untuk tetap menguasai barang yang dicuri.
2) Diancam dengan pidana penjara paling lama duabelas tahun:
1o. Bila perbuatan dilakukan pada waktu malam dalam sebuah rumah atau di pekarangan tertutup yang ada rumahnya, di jalan umum, atau dalam kereta api atau trem yang sedang berjalan;
2o. Bila perbuatan dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan bersekutu;
3o. Bila yang bersalah masuk ke tempat melakukan kejahatan dengan merusak atau memanjat, atau dengan memakai anak kunci palsu, perintah palsu atau pakaian jabatan palsu;
4o. Bila perbuatan mengakibatkan luka berat.
3) Bila perbuatan itu mengakibatkan kematian, maka yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama limabelas tahun.
4) Diancam dengan pidana mati atau pidana seumur hidup atau pidana penjara selama waktu tertentu, paling lama duapuluh tahun, bila perbuatan itu mengakibatkan luka berat atau kematian dan dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan bersekutu, disertai pula oleh salah satu hal yang diterangkan dalam nomor 1′ dan 3′.

 Solusi / Problem Solving
a. Mengenakan sanksi hukum yang tegas dan adil kepada para pelaku kriminalitas tanpa pandang bulu atau derajat.
b. Mengaktifkan peran serta orang tua dan lembaga pendidikan dalam mendidik anak.
c. Selektif terhadap budaya asing yang masuk agar tidak merusak nilai busaya bangsa sendiri.
d. Menjaga kelestarian dan kelangsungan nilai norma dalam masyarakat dimulai sejak dini melalui pendidikan multi kultural; seperti sekolah, pengajian, dan organisasi masyarakat.

3. Masalah Korupsi Kolusi dan Nepotisme

Korupsi berasal dari kata latin corruptio yang berarti perbuatan busuk, buruk, tidak jujur, dapat disuap, tidak bermoral, menyimpang dari kesucian, kata-kata atau ucapan menghina atau memfitnah. Dalam bahasa inggris berarti jahat, buruk, suap dan curang. Suatu perbuatan jahat, kriminal yang menguntungkan pribadinya dan atau kelompoknya dan merugikan orang lain dan atau kelompok lain.
Korupsi adalah suatu tindak pidana yang memperkaya diri yang secara langsung merugikan keuangan atau perekonomian negara. Ada juga yang megatakan korupsi adalah suatu transaksi yang tidak jujur yang dapat menimbulkan kerugian uang, waktu dan tenaga dari pihak lain baik penyuapan, pemerasan maupun nepotisme.
Definisi menurut Kartini kartono, yaitu : “ tingkah laku individu yang menggunakan wewenang dan jabatan guna mengeduk keuntung pribadi, merugikan kepentingan umum dan negara”.
Korupsi adalah tindakan mengambil sesuatu bukan milik dan bukan pula haknya yang dapat merugikan dan membahayakan orang lain. Begitu pula mencuri. Bedanya, kalau koruptor dapat mengambil sesuatu di tempat mana saja dengan cara tidak langsung, sementara pencuri mengambil sesuatu di tempat tertentu dengan cara langsung. Kalau koruptor mencuri sesuatu dengan sarana-sarana halus (shofwer). Kalau Pencuri dengan sarana-sarana yang kasar (Hadwer). Keduanya sama-sama pencuri, pelaku kriminal atauJinayah . Akibat dua pelaku kriminal ini terletak pada kerugian pemilik sesuatu itu dan pengaruh perbuatannya kepada masyarakat umum. Resiko pencuri lebih kecil ketimbang koruptor. Melakukan korupsi lebih mudah dilakukan ketimbang mencuri, karena koruptor tahu benar tempat harta ynag mau di korup. Akibatnya dapat merugikan orang banyak, bahkan bangsa dan negara. Sedangkan akibat mencuri hanya merugikan orang tertentu saja.
Kolusi adalah mengadakan hubungan secara diam-diam yang bersifat rahasia dengan orang atau kelompok lain yang bertujuan untuk menguntungkan dirinya atau kelompoknya. Kolusi merupakan sikap dan perbuatan tidak jujur dengan membuat kesepakatan secara tersembunyi dalam melakukan kesepakatan perjanjian yang diwarnai dengan pemberian uang atau fasilitas tertentu sebagai pelicin agar segala urusannya menjadi lancar
Nepotisme berasal dari akar kata Nepotis, yaitu orang atau pejabat yang lebihmengutamakan atau menomorsatukan orang-orang dekatnya untuk diberikan kedudukan atau jabatan. Nepotisme adalah sikap-tindak yang mengutamakan atau menomorsatukan famili atau teman-teman dekat untuk diberikan kedudukan atau jabatan.
Nepotisme berarti lebih memilih saudara atau teman akrab berdasarkan hubungannya bukan berdasarkan kemampuannya. Kata ini biasanya digunakan dalam konteks derogatori.
Sebagai contoh, kalau seorang manajer mengangkat atau menaikan jabatan seorang saudara, bukannya seseorang yang lebih berkualifikasi namun bukan saudara, manajer tersebut akan bersalah karena nepotisme. Pakar-pakar biologi telah mengisyaratkan bahwa tendensi terhadap nepotisme adalah berdasarkan naluri, sebagai salah satu bentuk dari pemilihan saudara.
Kata nepotisme berasal dari kata Latin nepos, yang berarti “keponakan” atau “cucu”. Pada Abad Pertengahan beberapa paus Katholik dan uskup- yang telah mengambil janji “chastity” , sehingga biasanya tidak mempunyai anak kandung memberikan kedudukan khusus kepada keponakannya seolah-olah seperti kepada anaknya sendiri. Beberapa paus diketahui mengangkat keponakan dan saudara lainnya menjadi kardinal. Seringkali, penunjukan tersebut digunakan untuk melanjutkan “dinasti” kepausan. Contohnya, Paus Kallistus III, dari keluarga Borja, mengangkat dua keponakannya menjadi kardinal; salah satunya, Rodrigo, kemudian menggunakan posisinya kardinalnya sebagai batu loncatan ke posisi paus, menjadi Paus Aleksander VI. Kebetulan, Alexander mengangkat Alessandro Farnese, adik kekasih gelapnya, menjadi kardinal; Farnese kemudian menjadi Paus Paulus III. Paul juga melakukan nepotisme, dengan menunjuk dua keponakannya (umur 14 tahun dan 16 tahun) sebagai Kardinal. Praktek seperti ini akhirnya diakhiri oleh Paus Innosensius XII yang mengeluarkan bulla kepausan Romanum decet pontificem pada tahun 1692. Bulla kepausan ini melarang semua paus di seluruh masa untuk mewariskan tanah milik, kantor, atau pendapatan kepada saudara, dengan pengecualian bahwa seseorang saudara yang paling bermutu dapat dijadikan seorang Kardinal.

 Jenis-Jenis Korupsi Dan Dampaknya
Korupsi mempunyai beberapa nama yang berbeda-beda, walaupun berbeda, korupsi tetap berkenaan dengan perbuatan kriminal atau jinayat yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok orang yang terkait dengan suatu tugas atau jabatan yang didudukinya. Orang yang diberi jabatan, berarti orang itu dianggap mampu menanggung amanah dan berkewajiban melaksanakan amanah tersebut dengan sebaik-baiknya. Nah, ketika orang tersebut melakukan sesuatu tidak sesuai dengan yang memberi amanah, apalagi sampai merugikan yang memberi amanah atau selain orang yang memberi amanah, maka orang tersebut dikategorikan sebagai orang yang melanggar amanah. Apabila pelanggaran itu bersifat menguntungkan dirinya atau kelompoknya, maka perbuatan itu disebut korupsi dan jahat. Oleh sebab itu, kewenangan dan kekuasaan hanya dapat dilakukan, bila telah sesuai dengan orang yang mempercayainya atau sesuai dengan aturan dan perundang-undangan yang berlaku.
Korupsi dapat dibagi kepada dua bagian, yaitu korupsi aktif dan korupsi passif. Di antara korupsi aktif sebagai berikut :
1. Memberikan sesuatu (hadiah) atau janji kepada pejabat; penyelenggara negara dengan maksud agar berbuat atau tidak berbuat sesuatu dalam jabatannya yang bertentangan dengan tugas, wewenang, hak dan kewajibannya sebagai orang yang mendapat kepercayaan.
2. Memberikan atau menjanjikan sesuatu kepada Hakim dengan maksud untuk mempengaruhi putusan perkara yang diserahkan kepadanya untuk diadili, disebutRisywah atau sogokan.
3. Menggelapkan uang atau menghilangkan atau menyimpan surat berharga, karena jabatannya untuk melakukan suatu perbuatan yang dapat menguntungkan dirinya atau kelompoknya dan merugikan orang lain baik individu atau masyarakat luas.
4. Memalsu buku-buku, data-data dan lain-lain yang berkenaan dengan administrasi dan tidak dapat mempertanggung jawabkannya dengan transparan sesuai dengan aturan dan prundang-undangan yang berlaku.
5. Melakukan perbuatan curang atau membiarkan orang melakukan curang dengan maksud menguntungkan dirinya atau kelompok dan merugikan orang lain atau kelompok.
6. Memungut uang diluar prosedur yang resmi dalam melaksanakan pelayanan kepada masyarakat, baik minta se-ikhlasnya atau dengan cara-cara lain yang mengarah kepada upaya agar orang lain (yang dilayani) memberikan uang atau berjanji memberikan uang kepada yang melayani, walaupun secara lahirnya diucapkan ikhlas, tapi sebenarnya tidak ikhlas. Pemberian se-ikhlasnya dilakukan oleh yang diberi pelayanan, karena takut diancam; tidak akan dilayani pada waktu itu atau pada waktu lainnya.
Perbuatan korupsi tidak hanya terjadi dalam bidang keuangan dan material, tetapi juga terjadi dalam bidang politik, seperti mony politc yang juga dikategorikan sebagai sogokan. Dan bisa terjadi dalam bidang bisnis, seperti mengurangi ukuran timbangan.
Sedangkan korupsi passif, misalnya melanggar menggunakan waktu atau jadwal yang ditetapkan bersama sesuai dengan aturan, seperti tidak tepat waktu masuk kantor atau sama sekali bolos dan masuk kantor hanya untuk mengambil honor harian atau gaji bulanan. Semua perbuatan tersebut disebut kriminal (kejahatan) dan dikenakan hukuman sesuai dengan tingkatan kesalahannya.
Praktek KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) di Indonesia tergolong cukup tinggi. Contoh di bidang perbankan khususnya, keberadaan UU No. 10 Tahun 1998 ternyata tidak cukup ampuh menjerat atau membuat jera para pelaku KKN. Dari data yang ada , diketahui ada beberapa kasus yang cukup mencolok dengan nominal kerugian negara yang cukup besar.
Sebutlah kasus penyelewengan dana BLBI yang sampai saat ini sudah berlangsung hampir 10 tahun tidak selesai. Para tersangka pelakunya masih ada yang menghirup udara bebas, dan bahkan ada yang di vonis bebas dan masih leluasa menjalankan aktivitas bisnisnya. Yang lebih parah lagi, terungkap juga bukti penyuapan yang melibatkan salah satu pejabat Jampidsus baru- baru ini.
Kasus perbankan lain yang cukup menarik perhatian masyarakat adalah LC fiktif yang merugikan Negara sampai 1.7 Triliun, jumlah uang yang cukup fenomental jika dilihat dari jumlah pelaku yang beberapa gelintir saja. Ini lebih besar dari laba bersih setahun yang bisa diraih BNI tahun 2004.
Peraturan yang mengatur bisnis perbankan sudah cukup lengkap. Sebut saja UU No. 10 Tahun 1998 yang merupakan penyempurnaan dari UU No.7 Tahun 1992, sudah sedemikian detail mengatur tentang segala definisi pelanggaran perbankan beserta sanksi yang diancamkan. Sistem audit baik Internal maupun eksternal juga sudah sedemikian lengkap mengatur pengawasan operasional perbankan. Namun masih saja bisa di cari-cari celah untuk melakukan penyimpangan.

 Permasalahan menurut pandangan Islam dan sudut pandang dakwah
Pandangan dan sikap Islam terhadap korupsi sangat tegas: haram dan melarang. Banyak argumen mengapa korupsi dilarang keras dalam Islam. Selain karena secara prinsip bertentangan dengan misi sosial Islam yang ingin menegakkan keadilan sosial dan kemaslahatan semesta (iqâmat al-‘adâlah alijtimâ’iyyah wa al-mashlahat al-‘âmmah), korupsi juga dinilai sebagai tindakan pengkhianatan dari amanat yang diterima dan pengrusakan yang serius terhadap bangunan sistem yang akuntabel. Oleh karena itu, baik al- Qur’an, al-Hadits maupun ijmâ’ al- ‘ulamâ menunjukkan pelarangannya secara tegas (sharih).
Dalam al-Qur’an, misalnya, dinyatakan: “Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan cara batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain itu dengan (cara berbuat) dosa padahal kamu mengetahui.” Dalam ayat yang lain disebutkan: “Hai orangorang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan cara batil, kecuali dengan cara perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu…”.
Dalam sejarah, baik para sahabat Nabi, generasi sesudahnya (tabi’in), maupun para ulama periode sesudahnya, semuanya bersepakat tanpa khilaf atas keharaman korupsi, baik bagi penyuap, penerima suap maupun perantaranya. Meski ada perbedaan sedikit mengenai kriteria kecenderungan mendekati korupsi sebab implikasi yang ditimbulkannya, tetapi prinsip dasar hukum korupsi adalah haram dan dilarang.
Ini artinya, secara mendasar, Islam memang sangat anti korupsi. Yang dilarang dalam Islam bukan saja perilaku korupnya, melainkan juga pada setiap pihak yang ikut terlibat dalam kerangka terjadinya tindakan korupsi itu. Bahkan kasus manipulasi dan pemerasan juga dilarang secara tegas, dan masuk dalam tindakan korupsi. Ibn Qudamah dalam al-Mughnî menjelaskan bahwa “memakan makanan haram” itu identik dengan korupsi. Zamakhsyari dalam tafsir al-Kasysyaf juga menyebut hal yang sama. Umar Ibn Khaththab berkata: “menyuap seorang hakim” adalah tindakan korupsi.
Dalam sejarah Islam sering dikutip kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz, salah seorang Khalifah Bani Umayyah, sebagai prototipe Muslim anti korupsi. Umar bin Abdul Aziz adalah figur extra-ordernary, suatu figur unik di tengah-tengah para pemimpin yang korup dalam komunitas istana. Ia sangat ketat mempertimbangkan dan memilahmilah antara fasilitas negara dengan fasilitas pribadi dan keluarga. Keduanya tidak pernah dan tidak boleh dipertukarkan (changeble). “Pada suatu malam, Khalifah Umar bin Abdul Aziz berada di kamar istana melakukan sesuatu berkaitan dengan urusan negara. Tiba-tiba salah seorang anaknya mengetuk pintu ingin menemui bapaknya. Sebeum masuk, ditanya oleh Khalifah, “Ada apa Anda malam-malam ke sini?” “Ada yang ingin dibicarakan dengan bapak”, jawab anaknya. “Urusan keluarga atau urusan negara?” tanya balik Khalifah. “Urusan keluarga,” tegas anaknya. Seketika itu, Khalifah mematikan lampu kamarnya dan mempersilakan anaknya masuk. “Lho, kok lampunya dimatikan,” tanya anaknya sambil keheranan. “Ini lampu negara, sementara kita mau membicarakan urusan keluarga, karena itu tidak boleh menggunakan fasilitas negara,” demikian jawab khalifah. Sang anakpun mengiyakannya.
Itulah sekelumit cerita tentang Khalifah Umar bin Abdul Aziz dalam upayanya untuk menegakkan good qovernance, melalui sikap-sikap yang akuntabel dan menghindari pemanfaatan fasilitas negara untuk kepentingan diri, kelompok, dan keluarganya.
Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 188
             ••    
“dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, Padahal kamu mengetahui”.
Surat An-Nisa ayat 29
                    •     
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.
Hadist 1
Zaid bin Akhzam Abu Thalib telah menceritakan hadis kepada kami, Abu ‘Ashim telah menceritakan kepada kami, dari Abd Al-Warits ibn Sa’id dari Husain al- Mu’alim, dari Abdullah ibn Buraidah, dari bapaknya, dari Nabi .. Beliau bersabda: “siapa saja yang telah kami angkat untuk mengerjakan suatu pekerjaan/jabatan kemudian kami telah memberikan gaji, maka sesuatu yang diterima di luar gajinya yang sah adalah ghulul (korupsi).”
Hadist 2
Rasulullah SAW bersabda:
“Allah melaknati penyuap dan penerima suap dalam proses hukum.” Dalam redaksi lain, dinyatakan: “Rasulullah SAW melaknati penyuap, penerima suap, dan perantara dari keduanya.” Kemudian dalam kesempatan yang berbeda, Rasulullah SAW bersabda: “penyuap dan penerima suap itu masuk ke neraka.”
 Pasal-pasal yang berkaitan dengan KKN
 KUHP pasal 419
Perbuatan korupsi di ancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun, seorang pejabat (pegawai negeri) : yang menerima hadiah atau janji, padahal diketahui bahwa itu diberikan untuk menggerakan dia supaya melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatannya, yang bertentangan dengan kewajibannya
 Undang-undang RI no. 31 tahun 1999 pasal 3
Setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korupsi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling sedikit 1 tahun atau paling lama 20 tahun dan denda paling sedikit Rp. 50.000.000,-(lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,-(satu miliar rupiah)

 Solusi
KKN adalah sama dengan perbuatan kriminal dan sejenisnya, karena sama-sama merugikan orang lain atau kelompoknya dan hanya menguntungkan dirinya sendiri atau kelompoknya dengan cara yang melanggar aturan dan perundang-undangan. Perbuatan itu dalam Syari’at Islam wajib hukumnya mendapat hukuman (had), baik dengan cara di qiyas-kan (disamakan) dengan perbuatan kriminal lainnya atau dengan cara lain dengan hukuman yang lebih berat. Dan pada prinsipnya, adanya hukuman itu adalah agar perbuatan itu tidak diualngi lagi. Oleh sebab itu KKN harus diberantas sampai ke akar-akarnya.

4. Masalah Kenakalan Remaja
Remaja adalah masa peralihan di antara masa anak-anak dan masa dewasa dimana anak-anak mengalami pertumbuhan cepat di segala bidang. Mereka bukan lagi anak-anak, baik bentuk badan, sikap, cara berfikir dan bertindak, tetapi bukan pula orang dewasa yang telah matang. Masa ini mulai kira-kira umur 13 tahun dan berakhir kira-kira umur 21 tahun. Masa sembilan tahun (13-21) yang dilalui oleh anak-anak itu tidak ubahnya sebagai suatu jembatan penghubung antara masa tenang yang selalu bergantung pada pertolongan dan perlindungan orang tua, dengan masa berdiri sendiri, bertanggung jawab dan berpikir matang.
Masa remaja adalah masa yang penuh dengan tantangan di dalam kehidupan dan perkembangan jiwanya, konflik-konflik dalam diri remaja sering kali menimbulkan masalah, hal tersebut tergantung sekali pada keadaan remaja itu sendiri dan lingkungannya yang menuntut persyaratan yang berat untuk dewasa yang panjang.
Dalam kehidupan para remaja sering kali diselingi hal hal yang negative dalam rangka penyesuaian dengan lingkungan sekitar baik lingkungan dengan teman temannya di sekolah maupun lingkungan pada saat dia di rumah. Hal hal tersebut dapat berbentuk positif hingga negative yang serng kita sebut dengan kenakalan remaja.
Kenakalan remaja itu sendiri merupakan perbuatan pelanggaran norma-norma baik norma hukum maupun norma sosial. Sedangkan Pengertian kenakalan remaja Menurut Paul Moedikdo,SH adalah :
1. Semua perbuatan yang dari orang dewasa merupakan suatu kejahatan bagi anak-anak merupakan kenakalan jadi semua yang dilarang oleh hukum pidana, seperti mencuri, menganiaya dan sebagainya.
2. Semua perbuatan penyelewengan dari norma kelompok tertentu untuk menimbulkan keonaran dalam masyarakat.
3. Semua perbuatan yang menunjukkan kebutuhan perlindungan bagi sosial.
Kenakalan remaja merupakan gejala alamiah anak pada periode umur tertentu. Meningkatnya kualitas kenakalan itu sendiri adalah akibat pengaruh lingkungan buruk yang ada disekitarnya. Akhir-akhir ini kenakalan remaja yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat, banyak menjurus pada penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya.
Kejahatan dan kenakalan remaja erat berkaitan dengan makin derasnya arus urbanisasi dan semakin banyaknya jumlah remaja desa yang berimigrasi ke daerah perkotaan tanpa jaminan sosial yang mantap, ditambah sangat sulitnya mencari pekerjaan yang cocok dengan ambisi mereka. Sampai akhirnya mereka dipaksa menerima bentuk-bentuk pekerjaan di bawah harapan semula yang semakin menambah rasa kecewa dan frustasi mereka. Kondisi sulit tersebut masih di tambah dengan semakin meningkatnya tuntutan hidup di kota.
 Jenis-Jenis kenakalan remaja
1. Membolos sekolah
2. Kebut-kebutan di jalanan
3. Penyalahgunaan narkotika
Narkoba adalah obat atau bahan yang berbahaya bagi tubuh, zat adiktif yang terkandung dalam narkoba, dapat mempengaruhi perasaan, mood dan emosi bagi yang mengkonsumsinya. Mengapa orang mengkonsumsi narkoba: Untuk merasakan kesenangan, meningkatkan kinerja tubuh, rasa ingin tahu.
Beberapa efek atau pengaruh narkoba bagi tubuh kita: Stimulant obat yang dapat mempercepat sistem saraf pusat. Ini meningkatkan aktivitas otak anda, membuat anda bersemangat dan energik, seperti: Tembakau, kokain, dll
Depressant; obat dapat memperlambat sistem syaraf pusat, obat ini bisa membuat orangg merasa santai, kurang tegang dan kurang menyadari peristiwa sekelilingnya; seperti: Alkohol, heroin. Hallucinogenics; obat yang dapat membuat halusinasi, seperti marijuana, ecstasy.

4. Perilaku seksual pranikah
Seks Bebas; perbuatan seks/perbuatan layaknya suami istri yang dilakukan diluar perkawinan/sebelum perkawinan. Dampak negatif seks bebas, diantaranya: Dapat kena berbagai macam penyakit; HIV/Aids, Sepilis dan penyakit kelamin lainnya, Hamil diluar nikah: usia yang belum memadai untuk hamil, orang tersebut belum siap untuk menikah, tidak mau diakui oleh laki-lakinya, tidak mendapat persetujuan orang tua dan lain-lain.
5. perkelahian antar pelajar
6. Geng Motor yang anarkis
 Faktor-faktor penyebab kenakalan remaja.
1. Reaksi frustasi diri
2. Gangguan berpikir dan intelegensia pada diri remaja
3. Kurangnya kasih sayang orang tua / keluarga
4. Kurangnya pengawasan dari orang tua
5. Dampak negatif dari perkembangan teknologi modern
6. Dasar-dasar agama yang kurang.
7. Tidak adanya media penyalur bakat/hobi
8. Masalah yang dipendam
9. Keluarga broken home
10. Pengaruh kawan sepermainan

 Permasalahan menurut pandangan Islam dan sudut pandang dakwah
Islam telah mengatur perilaku dalam remaja. Perilaku tersebut merupakan batasan-batasan yang dilandasi nilai-nilai agama. Oleh karena itu perilaku tersebut harus diperhatikan, dipelihara, dan dilaksanakan oleh para remaja. Perilaku yang menjadi batasan dalam pergaulan adalah :
1. Menutup Aurat
Islam telah mewajibkan laki-laki dan perempuan untuk menutup aurot demi menjaga kehormatan diri dan kebersihan hati. Aurot merupakan anggota tubuh yang harus ditutupi dan tidak boleh diperlihatkan kepada orang yang bukan mahramnya terutama kepada lawan jenis agar tidak boleh kepada jenis agar tidak membangkitkan nafsu birahi serta menimbulkan fitnah. Aurot bagi-bagi yaitu anggota tubuh antara pusar dan lutut sedangkan aurot bagi wanita yaitu seluruh anggota tubuh kecuali muka dan kedua telapak tangan.
Di samping aurot, Pakaian yang di kenakan tidak boleh ketat sehingga memperhatikan lekuk anggota tubuh, dan juga tidak boleh transparan atau tipis sehingga tembus pandang.
2. Menjauhi perbuatan zina
Pergaulan antara laki-laki dengan perempuan di perbolehkan sampai pada batas tidak membuka peluang terjadinya perbuatan dosa. Islam adalah agama yang menjaga kesucian, pergaulan di dalam islam adalah pergaulan yang dilandasi oleh nilai-nilai kesucian. Dalam pergaulan dengan lawan jenis harus dijaga jarak sehingga tidak ada kesempatan terjadinya kejahatan seksual yang pada gilirannya akan merusak bagi pelaku maupun bagi masyarakat umum. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman dalam Surat Al-Isra’ ayat 32:
         
“Dan janganlah kamu mendekati zina, Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk”
Dalam rangka menjaga kesucian pergaulan remaja agar terhindar dari perbuatan zina, islam telah membuat batasan-batasan sebagai berikut :
a. Laki-laki tidak boleh berdua-duaan dengan perempuan yang bukan mahramnya. Jika laki-laki dan perempuan di tempat sepi maka yang ketiga adalah syetan, mula-mula saling berpandangan, lalu berpegangan, dan akhirnya menjurus pada perzinaan, itu semua adalah bujuk rayu syetan.
b. Laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim tidak boleh bersentuhan secara fisik. Saling bersentuhan yang dilarang dalam islam adalah sentuhan yang disengaja dan disertai nafsu birahi. Tetapi bersentuhan yang tidak disengaja tanpa disertai nafsu birahi tidaklah dilarang.
• Tata Cara Pergaulan Remaja
Semua agama dan tradisi telah mengatur tata cara pergualan remaja. Ajaran islam sebagai pedoman hidup umatnya, juga telah mengatur tata cara pergaulan remaja yang dilandasi nilai-nilai agama. Tata cara itu meliputi :
a. Mengucapkan Salam
Ucapan salam ketika bertemu dengan teman atau orang lain sesama muslim, ucapan salam adalah do’a. Berarti dengan ucapan salam kita telah mendoakan teman tersebut.
b. Meminta Izin
Meminta izin di sini dalam artian kita tidak boleh meremehkan hak-hak atau milik teman apabila kita hendak menggunakan barang milik teman maka kita harus meminta izin terlebih dahulu
c. Menghormati orang yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda
Remaja sebagai orang yang lebih muda sebaiknya menghormati yang lebih tua dan mengambil pelajaran dari hidup mereka. Selain itu, remaja juga harus menyayangi kepada adik yang lebih muda darinya, dan yang paling penting adalah memberikan tuntunan dan bimbingan kepada mereka ke jalan yang benar dan penuh kasih sayang.
d. Bersikap santun dan tidak sombong
Dalam bergaul, penekanan perilaku yang baik sangat ditekankan agar teman bisa merasa nyaman berteman dengan kita. Kemudian sikap dasar remaja yang biasanya ingin terlihat lebih dari temannya sungguh tidak diterapkan dalam islam bahkan sombong merupakan sifat tercela yang dibenci Allah.
e. Berbicara dengan perkataan yang sopan
Islam mengajarkan bahwa bila kita berkata, utamakanlah perkataan yang bermanfaat, dengan suara yang lembut, dengan gaya yang wajar dan tidak bual.
f. Tidak boleh saling menghina
Menghina / mengumpat hukumnya dilarang dalam islam sehingga dalam pergaulan sebaiknya hindari saling menghina di antara teman.
g. Tak boleh saling membenci dan iri hati
Rasa iri akan berdampak dapat berkembang menjadi kebencian yang pada akhirnya mengakibatkan putusnya hubungan baik di antara teman. Iri hati merupakan penyakit hati yang membuat hati kita dapat merasakan ketenangan serta merupakan sifat tercela baik di hadapan Allah dan manusia.
h. Mengisi waktu luang dengan kegiatan yang bermanfaat
Masa remaja sebaiknya dipergunakan untuk kegiatan-kegiatan yang bermanfaat remaja harus membagi waktunya dengan subjektif dan efisien, dengan cara membagi waktu menjadi 3 bagian yaitu : sepertiga untuk beribadah kepada Allah, sepertiga untuk dirinya dan sepertiga lagi untuk orang lain.
i. Mengajak untuk berbuat kebaikan
Orang yang memberi petunjuk kepada teman ke jalan yang benar akan mendapatkan pahala seperti teman yang melakukan kebaikan itu, dan ajakan untuk berbuat kebajikan merupakan suatu bentuk kasih sayang terhadap teman.
Demikian beberapa tata cara pergaulan remaja yang dilandasi nilai-nilai moral dan ajaran islam. Tata cara tersebut hendaknya dijadikan pedoman bagi remaja dalam bergaul dengan teman-temannya.
Allah berfirman dalam surat
Adz-Dzariat ayat 54

     
“Maka berpalinglah kamu dari mereka dan kamu sekali-kali tidak tercela”.

Hadist 1
Rasulullah s.a.w. bersabda: “Seorang mukmin yang paling sempurna imannya ialahmereka yang berakhlak mulia dan berlemah lembut dengan ahli keluarganya.(Riwayat Al-Tirmizi dan Al-Hakim)
Hadist 2
Rasulullah s.a.w. bersabda:Maksudnya: “Sesungguhnya dalam jasad manusia itu terdapat seketul daging apabila baik ia,maka baiklah seluruh badan. Jika ia rosak maka rosaklah seluruh badan. Itulah hati.” (RiwayatBukhari dan Muslim)
 Pasal-pasal yang berkaitan dengan kenakalan remaja
 Tentang Penyalahgunaan Narkoba
Pasal 127 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika menyebutkan bahwa. Setiap Penyalah guna:
a. Narkotika Golongan I bagi dirinya sendiri, dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun;
b. Narkotika Golongan II bagi dirinya sendiri, dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun;
c. Narkotika Golongan III bagi dirinya sendiri, dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun
 Pasal 358 KUHP menyatakan bahwa :
Barangsiapa dengan sengaja turut serta dalam penyerangan atau perkelahian yang dilakukan oleh beberapa orang, maka selain dari tanggungannya masing-masing atas perbuatan yang istimewa dilakukannya dipidana:
Ke-1; dengan pidana penjara selama-lamanya dua tahun delapan bulan, jika penyerangan atau perkelahian itu hanya berakibat ada orang luka berat;
Ke-2; dengan pidana penjara selama-lamanya empat tahun, jika penyerangan itu berakibat ada orang mati.
 Solusi
1. Orang tua harus selalu memberikan dan menunjukkan perhatian dan kasih sayangnya kepada anaknya. Jadilah tempat curhat yang nyaman sehingga masalah anak-anaknya segera dapat terselesaikan.
2. Perlunya ditanamkan dasar agama yang kuat pada anak-anak sejak dini.
3. Pengawasan orang tua yang intensif terhadap anak. Termasuk di sini media komunikasi seperti televisi, radio, akses internet, handphone, dll.
4. Perlunya materi pelajaran bimbingan konseling di sekolah.
5. Sebagai orang tua sebisa mungkin dukunglah hobi/bakat anak-anaknya yang bernilai positif. Jika ada dana, jangan ragu-ragu untuk memfasilitasi hobi mereka, agar anak remaja kita dapat terhindar dari kegiatan-kegiatan negatif.

5. Masalah Gangguan Jiwa/Mental
Gangguan Jiwa/ Mental Merupakan sindrom atau pola perilaku, atau psikologik seseorang yang secara klinik cukup bermakna, dan secara khas berkaitan dengan suatu gejala penderitaan atau gangguan didalam satu atau lebih fungsi yang penting dari manusia. Sebagai tambahan, disimpulkan bahwa disfungsi itu adalah disfungsi dalam segi perilaku, psikologik atau biologik, dan gangguan itu tidak semata-mata terletak didalam hubungan antara orang dengan masyarakat.
Gangguan jiwa adalah suatu ketidakberesan kesehatan dengan manifestasi-manifestasi psikologis atau perilaku terkait dengan penderitaan yang nyata dan kinerja yang buruk, dan disebabkan oleh gangguan biologis, sosial, psikologis, genetik, fisis, atau kimiawi.
Gangguan jiwa mewakili suatu keadaan tidak beres yang berhakikatkan penyimpangan dari suatu konsep normatif. Setiap jenis ketidakberesan kesehatan itu memiliki tanda-tanda dan gejala-gejala yang khas.
Gangguan jiwa adalah suatu keadaan dengan adanya gejala klinis yang bermakna, berupa sindrom pola perilaku dan pola psikologik, yang berkaitan dengan adanya distress (tidak nyaman, tidak tentram, rasa nyeri), disabilitas (tidak mampu mengerjakan pekerjaan sehari-hari), atau meningkatnya resiko kematian, kesakitan, dan disabilitas.
Gangguan jiwa dapat memengaruhi fungsi kehidupan seseorang. Aktivitas penderita, kehidupan sosial, ritme pekerjaan, serta hubungan dengan keluarga jadi terganggu karena gejala ansietas, depresi, dan psikosis. Seseorang dengan gangguan jiwa apa pun harus segera mendapatkan pengobatan. Keterlambatan pengobatan akan semakin merugikan penderita, keluarga, dan masyarakat.
Gangguan jiwa dalam berbagai bentuk adalah penyakit yang sering dijumpai pada semua lapisan masyarakat. Penyakit ini dialami oleh siapa saja, bukan hanya mereka yang mapan. Prevalensi gangguan jiwa di negara sedang berkembang dan negara maju relatif sama.
Munculnya beragam pandangan keliru atau stereotip di masyarakat. Penderita gangguan jiwa sering digambarkan sebagai individu yang bodoh, aneh, berbahaya, dan terbelakang. Hal ini tentu akan melahirkan sikap keliru. Padahal, sebagai orang sakit, tentu penderita mengharapkan perhatian, kasih sayang, dan lainnya. Sayangnya, karena pandangan yang salah ini masyarakat akhirnya lebih mengolok-olok penderita, menjauhinya, bahkan sampai memasung karena menganggapnya berbahaya. Meski upaya ini tidaklah mudah, kepedulian tetap harus digalang. Sebab, mereka juga manusia yang memiliki hati dan perasaan.

Gangguan Mental pada umumnya terbentuk dari ketidakmampuan mengadakan adaptasi terhadap lingkungan dengan tingkah lakunya yang abnormal dan aneh-aneh, pasien biasanya memahami diri sendiri bahkan membenci dirinya.
Jumlah penderita gangguan jiwa di Jawa Barat diperkirakan lebih dari 30% dari jumlah penduduk dewasa. Jumlah tersebut akan semakin bertambah dengan kesulitan ekonomi yang disebabkan kenaikan harga BBM. Menurut direktur Rumah Sakit jiwa Bandung, dr. Machmud Sp.K.J. dampak nyata dari kenaikan harga BBM terhadap jumlah warga yang mengalami gangguan jiwa, baru akan bisa dilihat pada tiga bulan atau enam bulan ke depan.
 Jenis-Jenis Gangguan jiwa /mental
a. Psikosis
Psikosis merupakan penyakit atau gangguan mental parah, yang ditandai oleh disorientasi pikiran, gangguan-gangguan emosional, disorientasi waktu dan ruang, serta pribadi dan beberapa kasus di sertai halusinasi dan delusi-delusi.
Psikosis juga merupakan gangguan mental yang sudah berupa disorganisasi jiwa yang berat sekali sehingga penderitanya seringkali sulit untuk disembuhkan. Tergolong dalam spektrum yang tertinggi. Karena tingkat gangguannya sangat berat. Orang awam bisa menyebutnya “orang gila, tidak waras” Ada tiga macam psikosis yaitu :
a) Gangguan Afektif (Depresi)
– Fenomena Depresi
Depresi atau suasana defresi adalah bentuk gangguan suasana perasaan yang paling umum ditemui dalam primary health care. Hal ini tidak dibatasi oleh kelompok usia tertentu ataupun kelompok jenis kelamin tertentu.
– Pengertian Depresi
Defresi adalah sebagai suatu penyakit yang menyebabkan suatu gangguan dalam perasaan dan emosi yang dimiliki oleh individu yang ditunjuk sebagai suasana perasaan.
Defresi pada remaja sebagian besar tidak berdiagnosis sampai akhirnya mengalami kesulitan yang serius dalam sekolah, pekerjaan, dan penyesuaian pribadi yang sering kali berlanjut pada masa dewasa.
Perlu juga dibedakan antara sindrom depresi dengan simton depresi. Sindrom merupakan sebagai satu kumpulan simtom atau gejala-gejala yang saling berkaitan. Simtom berarti suatu indicator hadirnya suatu penyakit.
– Simtom-simtom Depresi
Ada Sembilan simtom yaitu: nafsu makan yang teganggu, gangguan tidur, retardasi psikomotor, kehilangan minat pada aktivitas, ketidakmampuan menikmati hobi-hibo, kehilangan tenaga, perasaan tidak berguna, perasaan bersalah yang tidak pada tempatnya, kesulitan untuk berkonsentrasi, pikiran tindakan bunuh diri.
– Faktor-faktor penyebab Depresi
Disebabkan karena faktor bawaan/ genetis, factor lingkungan yang meliputi pengalaman kehilangan, stress karena suatu peristiwa kehidupan dan keadaan internal individu yang utamanya adalah adanya perbedaan yang besar antara apa yang diharapkan dengan kenyataanya. Ketiga faktor tersebut saling berinteraksi dalam memunculkan simtom depresi.
b) Schizofrenia
Schizofrenia merupakan penyakit otak yang timbul akibat ketidakseimbangan pada dopamin, yaitu salah satu sel kimia dalam otak. Ia adalah gangguan jiwa psikotik paling lazim dengan ciri hilangnya perasaan afektif atau respons emosional dan menarik diri dari hubungan antarpribadi normal. Sering kali diikuti dengan delusi (keyakinan yang salah) dan halusinasi (persepsi tanpa ada rangsang pancaindra).
Gangguan jiwa ini dicirikan dengan gangguan dalam proses berfikir dimana terjadi distorsi yang berat terhadap kenyataan/realita misalnya penderitanya seolah-olah melihat atau mendengan sesuatu padahal dalam kenyataannya tidak ada. (halusinasi). Cirri lainnya dari penderita ini adalah kehilangan kontrol dan integritasi terhadap prilakunya sendiri.
– Simple Schizofrenia
Artinya mental atau jiwanya menjadi tumpul. Kesadarannya masih jernih, akan tetapi kesadaran akunya sangat terganggu. Ciri-cirinya: Orang yang mengalami derealisasi dan depersonalisasi berat; di hinggapi macam-macam ilusi dan delusi, sebab fikirannya kacau,melantur; banyak tersenyum-senyum dengan muka yang selalu perat perot tanpa ada perangsang sedikit pun. Gejalanya meliputi kehilangan minat, emosi tumpul/ datar menarik diri dari masyarakat.
– Katatonik Schizofrenia
Penderita tipe ini menunjukkan satu dari dua pola yang dramatis, yaitu: Stupor penderitanya kehilangan gerak, cenderung untuk diam pada posisi yang stereotipi dan lamanya bisa berjam-jam bahkan berhari-hari. Kemudian Excitement penderitanya melakukan tingkah laku yang berlebihan seperti berbicara banyak tetapi tidak koheren, gelisah yang ditunjukkan dengan tingkah laku.
– Heberphrenis Schizofrenia
Gejalanya meliputi reaksi-reaksi emosional yang makin bertambah indeferen dan tingkah laku infanti, seperti misalnya tiba-tiba menangis atau tertawa tetapi tidak berkaitan dengan situasi yang terjadi.
– Paranoid Schizofrenia
Penderitanya menunjukkan dua pola yaitu : Pola Schizoprenia Ditandai dengan proses berfikir kacau, tidak logis dan mudah berubah serta delusi yang aneh. Pola Paranoid ditandai dengan system delusi lebih masuk akal dan logis, kontak dengan realita (relity testing) juga relative tidak terganggu.
c) Paranoid
Dicirikan dengan adanya sistem deluse yang kuat sekali, yaitu : Persekusi dimana orang merasa selalu diawasi, yakin bahwa dirinya diikuti dan dipengaruhi. Kemudian Grandiouse dimana orang memiliki keyakinan bahwa dia adalah orang yang terkenal atau orang yang besar atau tokoh tertentu seperti nabi dan lain sebagainya.
b. Neurosis
Neurosis adalah bentuk gangguan mental yang tergolong lunak tidak berbahaya, ditandai dengan penglihatan diri yang tidak lengkap terhadap kesulitan pribadi, memendam banyak konflik, disertai reaksi kecemasan.
Orang yang memiliki Neurosis tingkat gangguannya masih tergolong ringan, sehingga orang tersebut masih bisa berfungsi biasa dalam kehidupan sehari hari. Dia bisa bekerja, belajar, menjalankan kehidupan sosial yang wajar. Jelaslah bahwa penderita Neurosis tidak berbahaya bagi lingkungan sekitar. Ada berbagai macam Neurosis, diantaranya :
a) Kecemasan
Kecemasan ini merupakan gejala paling mencolok terhadap ketakutan yang tidak bisa diidentifikasi dengan suatu sebab khusus, dan dalam banyak peristiwa merembes serta mempengaruhi wilayah-wilayah penting dari kehidupan seseorang.
Gejala kecemasan beralih dari satu objek ke objek lainnya. Ini yang menjadi penanda, bahwa sebenarnya kecemasan terjadi karena adanya konflik dalam diri individu yang bersangkutan, bukan karena situasi riilnya.
b) Disosiasi
Merupakan gangguan mental yang dicirikan dengan gangguan ingatan atau pikiran karena tak terintegrasi dengan baik dalam kepribadian.
– Amnesia
kondisi terganggunya daya ingat. Penyebab amnesia dapat berupa organik atau fungsional. Penyebab organik dapat berupa kerusakan otak, akibat trauma atau penyakit, atau penggunaan obat-obatan (biasanya yang bersifat sedatif). Penyebab fungsional adalah faktor psikologis, seperti halnya mekanisme pertahanan ego. Amnesia dapat pula terjadi secara spontan.
Individu yang mengalami amnesia tidak bisa mengingat pengalaman-pengalaman tertentu masa lalu. Ini terjadi karena individu menggunakan mekanisme represi terhadap pengalaman-pengalaman tidak menyenangkan atau yang mengancam yang dialami seolah-olah pengalaman tersebut dilupakan atau tidak dikenali lagi.
– Fuga
Fuga mirip dengan amnesia tetapi sifatnya lebih kuat. Penderita biasanya pergi jauh dari tempat lain dengan identitas yang baru sampai puluhan tahun sehingga mungkin mendapatkan pekerjaan dan bahkan keluarga baru.
– Kepribadian Majemuk
Kepribadian majemuk/ganda dapat didefinisikan sebagai kelainan mental dimana seseorang yang mengidapnya akan menunjukkan adanya dua atau lebih kepribadian (alter) yang masing-masing memiliki nama dan karakter yang berbeda. Mereka yang memiliki kelainan ini sebenarnya hanya memiliki satu kepribadian, namun si penderita akan merasa kalau ia memiliki banyak identitas yang memiliki cara berpikir, temperamen, tata bahasa, ingatan dan interaksi terhadap lingkungan yang berbeda-beda.
Walaupun penyebabnya tidak bisa dipastikan, namun rata-rata para psikolog sepakat kalau penyebab kelainan ini pada umumnya adalah karena trauma masa kecil. Biasanya disebut dengan kepribadian ganda. Dalam diri satu orang terdapat lebih dari satu pribadi.
– Somnabulisme
Somnabulisme adalah tidur sambil berjalan. Somnabulisme berasal dari kata Somnus yang berarti tidur, dan kata ambulare yang berarti berjalan. Penderita tidur sambil berjalan dan berbuat sesuatu, seperti dalam keadaan trance. Tampaknya pasien tidak sadar melakukan kembali beberapa pengalaman, seperti yang pernah dilakukannya ( sewaktu bangun atau jaga) selagi dia tidur. Sebabnya ialah pengalaman-pengalaman yang mencemaskan atau shock emosional yang belum terselesaikan yang mengakibatkan timbulnya dissosiasi. Dan secara dramatis pengalaman-pengalaman tadi diulang kembali dalam tidurnya. Ketika dalam trance sewaktu tidur itu, pasien biasanya didominir oleh satu ide, yang kemudian tidak disadari lagi ketika dia bangun.
Hampir seluruh penderita somnabulisme itu menunjukkan simptom-simptom kecemasan, kesusahan kerisauan, kelelahan serta ketidak stabilan emosi. Somnabulis ( penderita somnabulisme) yang monodeic selalu melakukan tingkah laku somnabulistis yang berkaitan dengan satu ide saja; sehingga bentuk tingkah lakunya juga selalu sama. Sedang pada somnabulis yang polydeic selalu diganggu oleh ide-ide yang berbeda, sehingga tingkah lakunya juga selalu berbeda-beda pada waktu yang berlain-lainan. Terjadi bila ada ide-ide tertentu yang terus direpres sehingga tetap tinggal dalam ketidaksadaran.
c) Reaksi Konversi
Bisa diebut dengan hysteria. Penyebab utamanya yaitu individu tidak bisa menghadapi tekanan secara langsung, sehingga kemudian ketidakmampuannya tersebut diekspresikan dalam bentuk gejala-gejala fisik.
d) Pobia
Pobia dipahami sebagai ketakutan yang dialami oleh individu terhadap sesuatu (bisa benda, binatang maupun situasi), tapi jelas sesuatu yang ditakuti tersebut misalnya takut tempat yang tinggi, takut pada tempat tertutup dan lain sebagainya. Disebabkan karena penderitanya mengalihkan objek kecemasan yang sebenarnya pada sesuatu yang lain.
e) Obsesif-Kompulsif
Gangguan obsesif terjadi bila individu merasa dipaksa untuk berfikir mengenai sesuatu secara terus-menerus. Obsesif terjadi di pikiran. Gangguan kompulsif menyertai gangguan obsesif karena gangguan kompulsif merupakan akibat terhadap terjadinya pikiran yang obsesif. Sehingga melakukan sesuatu secara berulang-ulang apabila tidak dilakukan timbul rasa bersalah serta rasa cemas.
Perbedaan antara neurosis dan psikosis adalah orang yang terkena neurosis masih mengetahui dan merasakan kesukarannya, sebaliknya yang terkena psikosis tidak. Di samping itu orang yang terkena neurosis kepribadiannya tidak jauh dari realitas-realitas dan masih hidup dalam alam kenyataan pada umumnya. Sedangkan psikosis kepribadian dari segi (tanggapan, perasaan atau emosi, dorongan-dorongan) sangat terganggu, tidak ada integritas dan ia hidup jauh dari alam kenyataan.
 Permasalahan menurut pandangan Islam dan sudut pandang dakwah
Islam sebagai suatu agama yang bertujuan untuk membahagiakan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia, sudah barang tentu dalam ajaran-ajaranya memiliki konsep kesehatan mental. Begitu juga dengan kerasulan Nabi Muhammad SAW adalah bertujuan untuk mendidik dan memperbaiki dan membersihkan serta mensucikan jiwa dan akhlak.
Di dalam Al-Qur’an sebagai dasar dan sumber ajaran islam banyak ditemui ayat-ayat yang berhubungan dengan ketenangan dan kebahagiaan jiwa sebagai hal yang prinsipil dalam kesehatan mental. Ayat-ayat tersebut adalah:
Q.S Al-Imron ayat 164
                         
“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al kitab dan Al hikmah. dan Sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata”.
Penyakit yang berasal dari faktor kejiwaan, seperti kegelisahan, ketegangan, emosi berlebihan, tapi kemudian muncul dalam bentuk penyakit fisik, seperti: Jerawat, TBC, telinga berdengung, pengelupasan kulit, kesulitan haid, kelebihan asam, peradangan usus,tekanan darah meninggi,asma, obesitas, migrain,radang sendi, gemelatuk gigi, reumatik, diabetes, gagap, kanker,gangguan selera makan,sakit punggung, pusing, syaraf, ngompol, flu tulang, apatisme,keringat berlebihan.
Islam membantu menjaga diri agar tidak terkena gangguan bersifat psikosomatis, dengan seruan untuk menghindari hal-hal yang mengakibatkan kemarahan. Emosi kemarahan itu merupakan wabah, karena itu dicela dan amat berbahaya. Sikap menghindar dari amarah cukup efektif bagi kesehatan, sebelum kemarahan merusak sel-sel tubuh lain dan fungsinya, sehingga muncul penyakit-penyakit bersifat psikosomatis. Kematangan emosi harus dimiliki setiap orang yang ingin merasakan nikmatnya sehat secara kejiwaan. Tercantum dalam surat Al-Hujarat ayat 6
       •          
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.
Kita diajak untuk membekali diri dengan kemantapan jiwa, tidak terpengaruh amarah,sehingga tidak terlanjur bertindak bodoh dan hanya akan mengantarkannya pada penyesalan dan kesedihan.
Hadis 1
Rasulullah saw berpesan untuk menahan atau mengendalikan diri, tidak mengumbar amarah :
“Orang kuat itu bukanlah yang pandai bergulat, tapi orang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah”.(HR.Al-Bukhari).
Hadis 2
Dari Ibnu Abbas r.a. Rasulullah bersabda :
“Kesembuhan (obat) itu ada pada tiga hal: dengan minum madu, pisau hijamah (bekam), dan dengan besi panas. Dan aku melarang ummatku dengan besi panas.” (Hadist Bukhari)

 Pasal-pasal yang berkaitan dengan gangguan jiwa /mental

 Solusi
Ada tiga metode agar kita tetap terpelihara dari kesehatan Mental , yaitu :
• Metode Imaniah
Iman secara harfiah diartikan dengan rasa aman (al-aman) dan kepercayaan (al-amanah). Orang yang beriman berarti jiwanya merasa tenang dan sikapnya penuh keyakinan dalam menghadapi problem hidup.
• Metode Islamiah
Islam secara etimologi memiliki tiga makna, yaitu penyerahan dan ketundukan (al-silm), perdamaian dan keamanan (al-salm), dan keselamatan (al-salamah). Realisasi metode Islam dapat membentuk kepribadian muslim (syakhshiyah al-muslim) yang mendorong seseorang untuk hidup bersih, suci dan dapat menyesuaikan diri dalam setiap kondisi. Kondisi seperti itu merupakan syarat mutlak bagi terciptanya kesehatan mental.
• Metode Ihsaniah
Ihsan secara bahasa berarti baik. Orang yang baik (muhsin) adalah orang yang mengetahui akan hal-hal baik, mengaplikasikan dengan prosedur yang baik, dan dilakukan dengan niatan baik pula.
6. Masalah Perjudian
Dalam bahasa Indonesia Judi berarti permainan untung-untungan dengan bertaruh. Dalam bahasa Arab Judi berarti “Qimar”.arti Qimar menurut Munjid adalah segala permainan yang dijanjikan bahwa yang menang akan mendapat sesuatu dari yang kalah.
Perjudian adalah permainan di mana pemain bertaruh untuk memilih satu pilihan di antara beberapa pilihan dimana hanya satu pilihan saja yang benar dan menjadi pemenang.. Pemain yang kalah taruhan akan memberikan taruhannya kepada si pemenang. Peraturan dan jumlah taruhan ditentukan sebelum pertandingan dimulai.
Undian dapat dipandang sebagai perjudian dimana aturan mainnya adalah dengan cara menentukan suatu keputusan dengan pemilihan acak. Undian biasanya diadakan untuk menentukan pemenang suatu hadiah.
Contohnya adalah undian di mana peserta harus membeli sepotong tiket yang diberi nomor. Nomor tiket-tiket ini lantas secara acak ditarik dan nomor yang ditarik adalah nomor pemenang. Pemegang tiket dengan nomor pemenang ini berhak atas hadiah tertentu.
Perjudian merupakan salah satu bentuk penyakit masyarakat, satu bentuk patologi sosial. sejarah pendidikan sudah sejak beribu-ribu tahun yang lalu, sejak dikenalnya sejarah peradaban manusia. Menurut Kartini Kartono Perjudian adalah pertaruhan dengan sengaja, yaitu mempertaruhkan satu nilai atau sesuatu yang dianggap bernilai, dengan menyadari ada resiko dan harapan-harapan tertentu pada peristiwa-peristiwa permainan, pertandingan, perlombaan, dan kejadian-kejadian yang tidak atau belum pasti hasilnya.

 Jenis-Jenis Perjudian
 Permasalahan menurut pandangan Islam dan sudut pandang dakwah
 Pasal-pasal yang berkaitan dengan perjudian
 Solusi
C. Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA
Daradjat, Zakiah,1983. Kesehatan Mental.Jakarta: Gunung Agung
Siswanto.2007. Kesehatan Mental. Yogyakarta: ANDI
Mujib, Abdul dan Jusuf Mudzakir, 2001. Nuansa-Nuansa Psikologi Islam. Jakarta: Rajawali Press

By ulfianti

One comment on “MASALAH-MASALAH PATOLOGI SOSIAL

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s