Konseling Keluarga

MAKALAH

 

DINAMIKA KELUARGA DAN MODEL-MODEL KONSELING KELUARGA

 

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Kelompok

Pada Mata kuliah BK Keluarga

 

 

 

 

Oleh

ADINNI CHOERUNISA

ANNISA RAMDAYANI F.

DINI ULFIANTI

ENTANG FATIMAH

( NIM. 1209401004 )

( NIM. 1209401012 )

( NIM. 1209401022)

( NIM. 1209401026 )

 

JURUSAN BIMBINGAN DAN PENYULUHAN ISLAM

FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SUNAN GUNUNG DJATI

BANDUNG

2012

 


DINAMIKA KELUARGA

  1. A.      Pengertian

Dinamika keluarga adalah suatu interaksi atau hubungan pasien dengan anggota keluarga dan juga bisa mengetahui bagaimana kondisi keluarga di lingkungan sekitarnya. Keluarga di harapkan mampu memberikan dukungan dalam upaya kesembuhan pasien.

Dinamika keluarga juga merupakan interaksi (hubungan) antara individu dengan lingkungan sehingga dapat diterima dan menyesuaikan diri baik dalam lingkungan keluarga maupun kelompok sosial yang sama.[1]

Keluarga tak ubahnya seperti negara. Ada pimpinan, menteri, rakyat, kebijakan, dan aturan. Layaknya negara, dinamika politik keluarga pun mesti dinamis. Karena dengan begitulah, keluarga menjadi hidup, hangat, dan produktif.

Indahnya hidup berkeluarga. Di situlah orang belajar banyak tentang berbagai hal. Mulai masalah pendidikan, hubungan sosial antar anggota keluarga, ekonomi, pertahanan, komunikasi, organisasi, dan politik. Mungkin, itulah sebabnya, orang yang sukses dalam berkeluarga, insya Allah, akan sukses berkiprah di masyarakat. Bahkan, negara dan dunia.

  1. B.       Aspek-Aspek Dinamika keluarga
  2. Tiap anggota keluarga memiliki perasaan dan idea tentang diri sendiriyang biasa dikenal dengan harga diri atau self-esteem.
  3. Tiap keluarga memiliki cara tertentu untuk menyampaikan pendapat dan pikiran mereka yang dikenal dengan komunikasi.
  4. Tiap keluarga memiliki aturan permainan yang mengatur bagaimana mereka seharusnya merasa dan bertindak yang berkembang sebagai system nilai keluarga.
  5. Tiap keluarga memiliki cara dalam berhubungan dengan orang luar dan institusi di luar keluarga yang dikenal sebagai jalur ke masyarakat.

Cuma masalahnya, tidak semua pimpinan keluarga peka dengan dinamika yang ada. Kadang juga terlalu tegang menyikapi kesenjangan antara idealita dengan realita. Ketidakpekaan dan ketegangan inilah yang kerap membuat dinamika keluarga menjadi redup. Para anggota menjadi ikut kikuk, bungkam, dan takut.

Jadi, dinamika dalam keluarga adalah hal yang memang sudah seharusnya terjadi. Yang diperlukan adalah sekali lagi rasa tenggang rasa, rendah diri menerima masukan dan kemauan untuk berubah dalam masing-masing.

Kebersamaan pada akhirnya adalah kebutuhan. “Keluarga” kita yang lain entah di organisasi entah di komunitas atau di tempat manapun selain keluarga asli kita adalah kebutuhan. Karena menyendiri bukan jawaban untuk keamanan, karena pagar sosial bagaimanapun lebih kokoh dari pagar beton. Menyendiri juga bukan jawaban untuk ketenangan, karena rasa tak paralel dengan suasana.[2]

 

MODEL-MODEL KONSELING KELUARGA

  1. A.      Pengertian Konseling Keluarga

Sebelum kepada model-model konseling keluarga maka berikut ini akan dikemukakan defini konseling keluarga.

“Family therapy is an interactive proces which seeks to aid the family in regaining a homeostatic balance with which all the members are confortable in pursuing this objective the family therapist operates under certain basic assumptions”.[3]

Definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa konseling keluarga adalah suatu proses interaktif untuk membantu keluarga dalam memcapai keseimbangan dimana setiap anggota keluarga merasakan kebahagiaan. Untuk mencapai hal tersebut ini dikemukakan asumsi-asumsi dasar yang dapat menunjang pencapaian tujuan.

Konseling keluarga adalah usaha membantu individu anggota keluarga untuk mengaktualisasikan potensinya atau mengantisipasi masalah yang dialaminya, melalui sistem kehidupan keluarga, dan mengusahakan agar terjadi perubahan prilaku yang positif pada diri individu yang akan memberi dampak positif pula terhadap anggota keluarga lainnya.[4]

  1. B.       Model-Model Konseling Keluarga
  2. Salah satu model konseling keluarga adalah terapi keluarga atau family therapy.

Terapi ini mulai dikembangkan sejak tahun 1950. Terapi keluarga merupakan suatu metode yang menggunakan pendekatan struktural dalam menanggani masalah keluarga. Titik tolak dari pendekatan ini ialah pendapat bahwa keluarga merupakan suatu sistem sosialterkecil. Jadi, jika salah seorang anggota keluarga mengalami masalah-masalah yang mengganggu keseimbangan dirinya atau penampilan tingkah lakunya maka seluruh keluarga yang lain akan juga mengikuti gangguan atau goncangan itu.[5]

  1. Diagnosis dan konseling oleh Ackerman (Ackerman’s Family Diagnosis and Counseling).

Nothan W. Ackerman,seorang psikiatri di New York yang secara professional telah mengembangkan dan menyebarluaskan konseling keluarga dengan menekankan interdipendensi antara prosedur diagnosis dan penanganan (treatment).

Ia menjelaskan putusan diagnotis menentukan kejelasan penentuan tujuan konseling dan kekhususan tekhnik yang digunakan dalam konseling keluarga serat interview terhadap keluarga menjadi komponen essential dalam sistem diagnosis dalam konseling keluarga.

Untuk mencapai tujuan, seorang konselor keluarga spesifik sebagai berikut:

  1. Membantu keluarga mencapai kejelasan pembatasan konflik.
  2. Mendudukkan konflik pada tempat yang sebenarnya.
  3. Meluruskan prasangka-prasangka rasional yang tercakup dalam konflik dengan cara:

1)        Membebaskan beban yang terlalu banyak pada seseorang sebagai anggota dalam satu keluarga.

2)        Membebaskan beban kesedihan karena konflik dalam keluarga, di mana seharusnyadapat saling berhubungan dengan efektif.

3)        Mengaktifkan masuknya unsur emosi yang baik ke dalam hubungan antar anggota keluarga.

  1. Konseling keluarga secara bersama-sama oleh Safir (Safir’s Conjoint Family Counseling).

Virgina Safir sebagai seorang ahli terapi, mempunyai ciri seorang yang suka langsung, penuh semangat, otoriter dalam pertemuan-pertemuan dengan anggota keluarga. Selama mengadakan pertemuan dengan keluarga, Safir memmbuat pertanyaan lebih banyak daripada anggota keluarga. Tujuannya adalah untuk mengembangkan interaksi antar anggota keluarga. Dia melakukan semua hal ini dengan komunikasi verbal yang sangat baik dan dengan dirinya sendiri sebagai pusatnya.

Dalam pelaksanaan konseling, Safir menuntut suami dan istri sama-sama hadir dalam wawancara pertama, ia menekankan pentingnya kebutuhan laki-laki dan perempuan dalam rangka memperoleh informasi tentang masalah keluarga. Dalam wawancara pertama, Safir mengajukan pertanyaan untuk mengetahui apa yang diinginkan keluarga tersebut dan apa yang diharapkan dari konseling dan kemudian secara mendalam mengetahui keadaan atau sifat keluarga yang diberikan bantuan. selanjutnyaSafir menjelaskan bahwa tiap keluarga memberikan kontribusi yang tidak sama dengan keluarga lainnya dan terhadap kesulitannya. Hal inilah yang perlu dimengerti oleh konselor sebelum memberikan bantuan.

Dalam membantu keluarga agar hubungannya lebih efektif, Safir menempuh dua jalan,anatar membantu orang tua untuk mengerti anaknya dan penerimaan timbal balik antar mereka sendiri.

  1. Konseling keluarga berdasarkan Triad (Triad’s Based Family Counseling)

Grald H. Zuk seorang ahli psikoterapi dari Philadelphia mengembangkan konseling keluarga berdasarkan hubungan antara tiga atau lebih dalam keluarganya, yang menurut anggapannya lebih baik daripada berdasarkan yang banyak dilakukan oleh ahli psikoanalisis. Zuk menekankan bahwa triad itu dipakai sebagai perbaikan dari model dyad, yaitu terapi keluarga berdasarkan hubungan tiga orang dalam keluarga:

  1. Antara anak – ibu – anak
  2. Antara anak – ayah – anak
  3. Antara ayah – ibu – anak

Karena kesulitan dan permasalahan keluarga tersebuit kemungkinan harus melibatkan dua atau lebih anggota keluarga yang saling bertentangan. Dalam mengatasi pertentangan keluarga, seorang terapis diharapkan mampu berperan sebagai penengah dan pelerai.

  1. Konseling kelompok keluarga oleh Bell (Bell’s Family Group Counseling)

Jhon Elderkin Bell, seorang ahli psikoterapi dari California. Dalam konselingnya memfungsikan pentingnya hubungan dalam keluarga sebagai cara untuk memperkuat hubungan sebagai suatu kelompok. Menurut Bell tugas yang harus segera dilakukan adalah membantu memperluas dan memperbaiki hubungan antar anggota keluarga. Peningkatan komunikasi keluarga sebagai cara yang paling baik untuk pemecahan masalah keluarga. Bell mengajarkan kepada keluarga untuk:

  1. Sifat yang lebih fleksibel.
  2. Lebih terbuka.
  3. Langsung.
  4. Jelas.
  5. Lebih disiplin dalam memilih dan membentuk hubungan.
  6. Konseling tingkah laku keluarga oleh Liberman (Behavior Counseling)

R. Paul Liberman, seorang ahli psikiater dari California telah menerapkan teori-teori dan prosedur konseling tingkah laku dalam keluarga. Menurutnya tugas terapis adalah:

  1. Menyebutkan secara panjang lebar mengenai tingkah laku penyesuaian yang buruk (maladaptive behavior).
  2. Memilih tujuan-tujuan yang masuk akaldari beberapa alternatif, tingkah laku yang sesuai (adaptive behavior).
  3. Mengarahkan dan membimbing keluarga untuk merubah tingkah laku yang tak sesuai dengan tingkah laku yang sesuai.

Dalam penerapan teori tingkah laku ke dalam konseling keluarga, Liberman menekankan pada tiga hal pokok:

  1. Menciptakan dan memelihara konselingyang positif dengan jalan menggunakan penguatan sosial dan model.
  2. Mendiagnosis problem-problem keluarga ke dalam istilah tingkah laku.
  3. Mengimplementasikan prinsip-prinsip tingkah laku dari penguat dan model (contoh) dalam hubungan interpersonal.
  4. Liberman membedakan beberapa tingkah laku konselor yang cendrung mengecilkan pentingnya hubungan antar konselor dan klien. Bahkan ada beberapa kritik bahwa konseling tingkah laku cendrung menggunakan pendekatan mengajar secara mesin (teaching machine) terhadap perubahan kepribadian.

Dalam membuat penialaian tingkah laku, Liberman menanyakan kepada tiap-tiap anggota keluarga berturut-turut apakah dia senang melihat perubahan-perubahan dari keluarga lain dan apakah dia menyukai dibedakannya dengan dirinya serta perbedaan apa yang dikehendaki di lihat pada keluarga lain. Jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu digunakan sebagai pedoman, sehingga dia dapat membuat pilihan yang seksama terhadap tujuan tingkah laku yang spesifik. Analisis tingkah laku belum selesai sesudah pertemuan pertama, tetapi harus dilakukan secara rutin sampai problem tingkah laku mereka berubah.

Liberman menggunakan model atau permainan peranan dalam melakukan penyembuhan. Model itu dapat dalam satu dari konselor, atau anggota keluarga. Jika model menujukkan tingkah laku yang diinginkan berarti bantuan yang diterima positif dan mungkin klien akan menirunya.

Dalam konseling tingkah laku mengutamakan pula adanya kesepakatan antara pribadi, antara konselor dan anggota keluarga untuk mengubah problem tingkah laku yang lebih sesuai. Liberman mengatakan bahwa pendekatan tingkah laku pada konseling keluarga memerlukan keuletan tenaga dari konselor, berlainan dengan pendekatan psikoanalisis.

  1. Konseling dampak ganda oleh Gregor (multiple impact counseling)

Robert Ma Gregor seorang ahli psikologi, mengembangkan suatu metode untuk menangani keluarga dengan melihat gangguan dan krisis pada masa remajanya. Metode itu disebut multiple impact counseling yang sering disingkat dengan MIC.

MIC melibatkan orang-orang yang ada hubungannya dengan keluarga tersebut, misalnya saudara, tetangga, teman, dan lain-lain. Konselor pun terdiri dari bermacam-macam ahli, yaitu ahli psikologi, psikiater, pekerja sosial, dokter dan lain-lain.

MIC mencoba menolong klien dan keluarga melalui proses alamiah menuju keperbaiakan fungsi. Pelaksanaan konseling dengan cara pertemuan (conference) antara konselor, klien dan keluarganya dan orang-orang lain seperti tersebut di atas. Dalam pertemuan terjadi wawancara dan diskusi antara konselor dengan klien dan keluarganya.

MIC dilaksanakan selama dua setengah hari dan sering selama dua hari saja MIC telah selesai. Pertemuan, wawancara dan diskusi dilakukan pada pagi dan sore hari secara terus menerus selam dua hari itu.

  1. Campur tangan jaringan social oleh Speck (social network intervention)

Ross V. Speck seorang psikiater, dengan teman-temanya telah mengembangkan konseling keluarga. Dalam campur tangan jaringan sosial ini Speck dan teman-temanya melibatkan seluruh saudara, teman-teman. Tetangga dari keluarga yang bermasalah yang kelihatannya mempunyai pengaruh yang berarti bagi keluarga itu. Caranya dengan mengadakan pertemuan di rumah keluarga tersebut, dan melibatkan kira-kira 40 orang. Tempat pertemuan dapat juga diadakan di rumah salah satu keluarga. Salah seorang dari mereka dapat juga diadakan dipilih menjadi pimpinan jaringan sosial tersebut. Seorang pimpinan dibutuhkan perasaan peka terhadap waktu, empati, perasaan akan suasana hati kelompok dan mempunyai kharisma. Dia juga harus mempunyai kecakapan untuk memberikan kepercayaan, bertanggung jawab dan memberikan penyelesaian yang baik terhadap anggota jaringan.

Anggota jaringan mendapatkan perasaan kesatuan dan pikiran yang menyenangkan seperti halnya tim pemain sepak bola,mereka dapat melepasakan ketegangan dengan berlari, meloncat dan berteriak. Bagi yang mengalami krisismendapat pusat perhatian dan untuk penyelesaiannya dilakukan secara terpisah.

Sebelum diskusi jaringan dengan keluarga, informasi yang pokok dikumpulkan untuk melengkapi konstruksi dari strategi jaringan pada pertemuan pertama. Sebelum sidang, prosedur yang biasanya dilakukan adalah konselor memasang tape recorder, mengumpulkan pendapat anggota keluarga, mendengarkan desas-desus dan biasanya didapat informasi tentang kelompok. Dalam hal ini biasanya konselor bertindak sebagai pembantu dengan dua atau empat orang berprofesi sebagai penasehat tersebut dalam latihan sebagai konselor jaringan, tetapi juga berprofesi sebagai pelopor. Kepercayaan tercipta selam hubungan akrab satu persatu dengan konselor selam sidang, mungkin setelah itu tidak ada hubungan lagi. Karena iotu dipesankan oleh konselor untuk membentuk jaringa komuniksi secara tetap. Dalam jaringan ini timbul perasaan baru dari para anggota dan sadar akan rasa kebersamaan.

  1. Konseling keluarga ganda oleh Laqueur (multiple family counseling)

H. Peter Laquer adalah seorang psikiater, ia menciptakan multiple family counseling. Ia mengatakan bahwa konseling yang demikian telah berkembang menjadi kebutuhan karena ia melihat sejumlah ketidak efisienan konselor dalm mengobati krisis keluarga di rumah sakit-rumah sakit pemerintah tempat ia bekerja. Laquer dan kelompoknya mulai melakukan terapi ini pada klien-klien di rumah sakit dan keluarganya.

Dari apa yang dilakukan dan dikembangkan oleh Laquer dan teman-temanya, maka ada kepercayaan bahwa konselor keluarga ganda dapat memberikan perubahan dala pola-pola interaksi secara lebih cepat dan lebih efektif dari pada yang biasa dilakukan dengan penanganan tunggal pada keluarga.

 

Terutama ketika ada anggota yang mengidap penyakit schizophrenia, konseling keluarga ganda dapat memberikan hasil yang lebih baik dari pada konseling tunggal kepada keluarga. Laquer percaya, karena hadirnya keluarga lain dan klien lain akan mendorong orang yang terserang schizophrenia untukdengan lebih aktif berusaha mengenali perbedaan diri dan kebebasannya dari pada terus menerus bertahan dalam hubungan simbiotik kepada keluarganya yang teritama menimbulkan sakitnya itu.

Laquer juga berbicara tentang jenis komunikasi yang sesuai untuk setiap jenis keluarga dan bahasa untuk orang yang terkena schizophrenia. Di menemukan keluarga lain yang dapat dugunakan sebagai perantara antara konselor dan keluarga itu, dan antara konselor dan orang yang terkena schizophrenia serta sering juga untuk menjernihkan hubungan antara klien itu dengan keluarganya.

Setelah memperkenalkan konseling keluarga ganda di New York Hospital, Laquer pindah ke Vermont. Di sana dia terus mempraktekkan konseling tersebut. Ketika ia melakukan serentak untuk empat atau lima keluarga, dari prakteknya sendiri atau dari rumah sakit dan klinik kesehatan mentalnya, dia menjelaskan bahwa problem mereka akan digabungkan. Tetapi tiap-tiap keluarga harus merasa bebas apakah akan ikut bersama-sama mengadakan pembicaraan lagi ataukah tidak setelah pertemuan pertama. Setiap keluarga akan ditangani hanya jika tiap anggota keluarga memerlukan bantuan.

Keluarga-keluarga itu bercampur dalam pendidikan dan latar belakang sosial ekonominya. Laquer percaya bahwa dalam campuran yang acak itu, orang dari latar belakang serupa akan cendrung untuk berinteraksi secara dangkal. Lain dengan misalnya seorang anak sopir dengan seorang anak profesor. Menurut laquer dapat membuat orang tua mereka masing-masing terlibat pembicaraan yang lebih efisien, dibanding dengan dari orang tua yang berlatar belakang sejenis.

Keluarga yang tidak meninggalkan pertemuan pertama, biasanya suka untuk mengikuti penangan selanjutnya. Waktu yang diperlukan untuk jenis konseling ini adalah sekitar 12 sampai 18 bulan. Laquer melaporkan bahwa kebanyakan keluarga itu semula tidak mengetahui mengapa mereka harus berada dalam kelompok itu dan bagaimana dapat dibantu untuk membicarakan problem mereka dihadapan keluarga lain dengan problemnya sendiri-sendiri pula. Kemuadian baru mendapatkan pengertian dari pihak keluarga lain dan mendapat dukungan emosional dalam kelompok itu, sehingga mengurangi rasa sakit daro problem yang dirasakan. Akhirnya baru dapat menghadapai dengan tenang bahwa mereka memang telahmenyebabkan adanya problem itu.

Laquer telah menyebutkan satu persatu meklanisme perubahan yang dia yakini dala konseling keluarga ganda ini, yaitu:

  1. Konseling keluarga ganda menggunakan keluarga yang agar tidak terganggu secara co-counselor (konselor pembantu). Karena semua keluarga dala kelompok itu umumnya memiliki sebuah problem, maka konseling keluarga ganda memberikan kesempatan kepada mereka dalam kerangka kerja tersebutuntuk mengadakan komunikasi dan memperoleh pengertian yang lebih baik. Dengan keadaan demikian satu keluarga dengan senang hati dapat menerima keluarga yang lain dan keluarga yang lain itu dapat berperan sebagai co-counselor dalam konseling.
  2. Laquer percaya bahwa kompetisi di antara keluarga di dalam sistem konseling keluarga ganda ini, akan menghasilkan perubahan yang lebih cepat dala tahap awal penanganan. Sedang kooperasi (kerjasama) akan menimbulkan kompetisi pada tahap akhirnya.
  3. Konseling keluarga ganda akan membantu menyebarluaskan bahwa individu anggota keluarga harus mengerti tingkah lakunya, reaksi-reaksinya, dan tabiat-tabiatnya secara umum terhadapa orang lain dalam lingkungannya. Konselor menggunakan konsep ini dalam mengembangkan interaksi untuk membuat perasaan, problem-problem, dan kebutuhan orang-orang yang diobati itu yang sebelumnya ditutp-tutupi, sehingga dengan demikian dapat ditemuaka cara baru untuk menangani mereka.
  4. Anggota kelompok diberi kesempatan untuk mengamati keadaan konflik yang sejenis. Untuk melihat bahwa keluarga yang lain mempunyai problem yang dapat dibandingkan dengan problemnya.
  5. Konseling keluarga ganda seperti yang dikatakan Laquer, memeberikan kesempatan dengan apa yang dia sebut belajar melalui identifikasi. Dia tunjukkan bahwa orang dapat mengerti peranannya dan mengembangkan secara efektif dengan mengamati orang lain dalam hubungan-hubungannya. Perkawinan dapat menjadi baik setelah orang itu mengamati perkawinan orang lain. Hubungan anak dan orang tua dapat menjadi baik setelah melihat hubungan anak dan orang tua lain.
  6. Pengalaman konseling keluarga ganda memberikan kesempatan kepada keluarga untuk mencoba gaya tingkah laku baru. Dapat melihat bagaimana oramng lain memnerikan kepada mereka jika mereka beretingkah laku lain. Dalam konseling keluarga ganda ini dimana hubungan keluarga-keluarga disatukan, klien dan anggota keluarga lain merasa dan aman untuk membangun tingkah laku yang adaptif dibandingkan dengan keadaan dalam konseling keluarga tunggal (hanya keluarganya sendiri).
  7. Karena adanya sifat terbuka pada akhirnya akan membuat keluarga yang bersangkutan berbeda-beda tahap penanganannya. Ia menyatakan bahwa orang dengan besar sintomnyadalam keanggotaan kelompok konseling keluarga ganda ini, mengembangkan perubahan dan sikap berikutnya dalam perubahan itu terjadi pada anggota kelompok yang lain setelah melihat adanya tabiat yang dewasa dari model yang pertama tadi.
    h. Konseling keluarga ganda memberikan kesempatan kepada konselor untuk menggunakan tipe tingkah laku yang lebih baru, lebih realistis seperti yang ditunjukkan oleh seorang individu atau keluargasebagai dasar untukmengarahkan perhatian seluruh kelompok serta untuk mengajak seluruh keluarga dan individu lain memiliki situasi yang efektif dan realistis seperti tersebut di atas.

Laquer menjelaskan bahwa kelompok konseling keluartga ganda mudah berubah pendirian dan mudah goncang dan gagal jika konselor tidak membawanya ke dalam situasi yang baru. Konselor harus memiliki kecakapan untuk membetulkan dengan cepat jika terjadi kesalahan fungsi, harus ada inisiatif untuk memilih pendekatan-pendekatan dalam situasi yang kritis.

Laquer menganjurkan perlunya evaluasi yang lebih seksama dan penelitia selanjutnya. Dia juga menunjukkan kesimpulan sementara mengenai konseling keluaraga ganda ini berdasarkan 600 keluarga yang mengalami konseling ini. [6]

 

 

 

KESIMPULAN

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa Konseling keluarga memfokuskan pada masalah-masalah berhubungan dengan situasi keluarga dan penyelenggaraannya melibatkan anggota keluarga.

Konseling keluarga memandang keluarga secara keseluruhan bahwa permasalahan yang dialami seorang anggota keluarga akan efektif diatasi jika melibatkan anggota keluarga yang lain.

Konseling keluarga bertujuan membantu anggota keluarga belajar dan memahami bahwa dinamika keluarga merupakan hasil pengaruh hubungan anggota keluarga.

Membantu anggota keluarga agar dapat menerima kenyataan bahwa apabila salah seorang anggota keluarga memiliki permasalahan, hal itu akan berpengaruh terhadap persepsi, harapan, dan interaksi anggota keluarga lainnya. Memperjuangkan (dalam konseling), sehingga anggota keluarga dapat tumbuh dan berkembang guna mencapai keseimbangan dan keselarasan. Mengembangkan rasa penghargaan dari seluruh anggota keluarga terhadap anggota keluarga yang lain.

 


 

DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Konseling_keluarga

http://r-doc.blogspot.com/2010/11/teknik-teknik-dalam-bimbingan-dan.html

http://www.scribd.com/doc/75657031/DINAMIKA-KELUARGA

http://www.scribd.com/doc/75657031/DINAMIKA-KELUARGA

Willis, S. Sofyan, 2009. Konseling Keluarga. Alfabeta: Bandung


[1]Di unduh pada tanggal 8 Maret 2012. Jam 20:31. http://www.scribd.com/doc/75657031/DINAMIKA-KELUARGA

 

[2] Di unduh pada tanggal 13 maret 2012.Jam 23:12.http://www.johanriopamungkas.com/2011/11/dinamika-keluarga.html

[3] Perez (1979: 25)

[4] Sofyan S. Willis, Konseling Keluarga, Alfabeta, 2009, hlm:87-88

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s